Suatu hari, saya bertanya pada mesin: kenapa manusia takut?
Ia menjawab dengan rapi. Panjang. Tentang amigdala, tentang evolusi,
tentang fight or flight, tentang ketidakpastian, tentang trauma
masa lalu, tentang tekanan sosial. Jawaban yang cukup memuaskan secara
intelektual, tapi tidak sepenuhnya memuaskan secara batin. Seperti membaca buku
teks tentang rasa lapar ketika kita benar-benar lapar.
Lalu percakapan itu bergerak. Dari rasa takut secara umum, ke Trump yang “takut”
Iran punya uranium. Dari sana, ke pertanyaan yang lebih mengusik: kenapa negara
yang sudah punya ribuan hulu ledak justru paling takut pada negara lain yang
mulai membuat satu? Kenapa kekuatan terbesar justru yang paling gemetar?
Mesin itu menjawab lagi. Deterrence. Mutually Assured Destruction.
Dilema keamanan. Semua istilah yang keren dan bisa diandalkan untuk
menjawab pertanyaan di ruang kuliah Hubungan Internasional.
Tapi saya masih gelisah.
Dua Lelaki dan Sebilah Pedang
Coba bayangkan.
Ada dua orang lelaki, duduk di sebuah ruangan kosong. Di antara mereka,
tergeletak sebilah pedang. Lelaki pertama memandang pedang itu. Lalu memandang
lelaki kedua. Lalu kembali ke pedang. Ia mulai berpikir: bagaimana jika
lelaki itu mengambil pedang itu lebih dulu?
Maka, untuk melindungi dirinya, ia mengambil pedang itu duluan. Kini pedang
ada di tangannya. Ia merasa lebih aman.
Tapi lelaki kedua melihat ini. Ia tidak tahu apakah lelaki pertama
mengambil pedang itu untuk bertahan atau untuk menyerang. Yang ia tahu: kini
lawannya bersenjata, dan ia tidak. Maka ia pun mulai mencari—entah pedang lain,
entah batu, entah perisai.
Dan seterusnya. Dan seterusnya.
Inilah yang disebut para ilmuwan politik sebagai dilema keamanan. Tapi saya
melihatnya lebih sederhana: ini adalah kisah tentang dua makhluk yang sama-sama
takut. Yang satu bertindak duluan karena takut. Yang lain membalas karena
takut. Dan di ujung semua ketakutan itu, tidak ada yang benar-benar aman. Hanya
ada eskalasi.
Sekarang bayangkan jika salah satu dari mereka berani berkata: “Aku tidak
akan mengambil pedang itu. Aku akan duduk di sini. Jika kau ingin mengambilnya,
ambillah.”
Apakah itu naif? Mungkin.
Tapi bukankah keberanian sejati justru adalah ketika kita memilih untuk tidak ikut dalam perlombaan yang tidak akan pernah selesai?
Ruangan Gelap dan Bayangan Sendiri
Pernahkah Anda terbangun di tengah malam, di ruangan yang gelap total, dan
melihat sesuatu bergerak di sudut?
Jantung berdegup. Napas tertahan. Anda yakin ada sesuatu di sana.
Lalu lampu dinyalakan.
Ternyata itu hanya pakaian yang tergantung. Bayangan Anda sendiri.
Begitulah cara kerja ketakutan. Ia mengisi kekosongan informasi dengan
skenario terburuk. Ketika kita tidak tahu apa yang dipikirkan orang lain—apa
yang direncanakan negara lain—kita mengisi ketidaktahuan itu dengan asumsi. Dan
asumsi, lebih sering daripada tidak, condong ke arah bahaya.
Kita takut pada apa yang tidak kita pahami. Tapi lebih dari itu, kita takut pada apa yang kita pikir kita pahami, padahal sebenarnya tidak.
Takdir yang Tidak Bisa Kita Tolak
Ada satu hal yang saya pahami setelah menjalani kehidupan sejauh
ini—sependek dan sepanjang apa pun itu.
Takdir manusia sejatinya adalah memilih.
Takdir itu tidak bisa dihindari sejak kita tidak bisa membuang kesadaran
sejak awal. Kita sadar. Maka kita memilih. Bahkan ketika kita tidak memilih,
itu pun adalah pilihan. Kita tidak bisa lari dari kenyataan bahwa setiap detik
kita sedang menentukan sesuatu.
Jika takdir adalah memilih, maka rasa takut bukanlah sesuatu yang menimpa
kita secara pasif. Ia adalah sesuatu yang kita sikapi. Kita pilih.
Kita bisa memilih untuk takut pada bayangan sendiri. Atau kita bisa memilih untuk menyalakan lampu.
Lelucon dan Tempat Berupaya
Hidup ini, dalam sebuah ungkapan yang jauh lebih tua dari kita semua,
hanyalah senda gurau. Lelucon, karena begitu banyak hal yang kita anggap
genting ternyata tidak sepenting itu di mata semesta. Tapi manusia diciptakan
dalam keadaan susah payah. Maka hidup adalah tempat berupaya—karena meskipun
absurd, kita tetap punya tugas untuk menjalaninya dengan sebaik-baiknya.
Ketakutan, dalam pengertian ini, adalah bagian dari lelucon itu. Kita takut
pada sesuatu yang sering kali tidak terjadi. Kita takut pada skenario yang kita
ciptakan sendiri. Kita menghabiskan begitu banyak energi untuk gemetar di depan
pintu yang bahkan tidak pernah terbuka.
Tapi di sisi lain, rasa takut juga bisa menjadi bahan bakar. Ia
mengingatkan kita bahwa kita peduli. Bahwa ada sesuatu yang kita anggap
berharga.
Masalahnya bukan pada rasa takut itu sendiri. Masalahnya adalah ketika rasa takut mengambil alih kemudi. Ketika ia tidak lagi menjadi penasihat, tapi menjadi diktator.
Musa yang Lari dalam Ketakutan
Saya teringat pada Musa.
Ia baru saja membunuh seseorang—tidak sengaja, tapi tetap saja membunuh.
Kini ia berada di kota yang sama, dan seseorang memperingatkannya bahwa para
pembesar sedang berunding untuk mengeksekusinya. Maka Musa pun lari. Keluar
dari kota itu dalam keadaan cemas, menoleh-noleh ke kiri dan kanan, waspada
pada setiap bayangan yang bergerak.
Dan di tengah ketakutannya, ia berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah
aku dari kaum yang zalim.” (QS. Al-Qashash: 21)
Musa—seorang nabi, seorang yang diajak bicara langsung oleh Tuhan—takut.
Gentar. Cemas. Lari menyelamatkan diri.
Tapi ke mana doanya diarahkan? Bukan kepada pedang yang bisa ia genggam.
Bukan kepada tembok kota yang bisa ia sembunyikan dirinya baliknya. Tapi kepada
Yang Maha Kuasa. Musa takut kepada manusia, tapi ia bersandar kepada Tuhan.
Ketakutannya kepada makhluk tidak melenyapkan kepercayaannya kepada Khalik.
Inilah yang membedakan takut yang menghancurkan dari takut yang menyelamatkan: ke mana kita menghadap saat ketakutan itu datang.
Negosiasi dengan Kenyataan
Saya tidak bisa menghentikan negara-negara besar untuk saling mengancam
dengan senjata nuklir. Saya tidak bisa menghentikan Donald Trump untuk menyebut
proposal damai Iran sebagai “sampah” pada Senin, 11 Mei 2026 di Gedung
Putih—sebuah ungkapan yang membuat gencatan senjata yang sudah berlangsung
sebulan kini “sekarat” (Tribun Video, 12 Mei 2026). Saya tidak bisa menghentikan siapa pun untuk merasa takut.
Tapi saya bisa memilih bagaimana saya menyikapi semua ini.
Realita dimulai dari pikiran. Maka pikiran itu harus diarahkan agar dapat
menegosiasikan kenyataan. Bukan untuk menipu diri sendiri bahwa semuanya
baik-baik saja. Tapi untuk melihat bahwa di balik semua ketakutan yang
ditawarkan dunia kepada kita setiap pagi—melalui berita, melalui notifikasi,
melalui percakapan—ada pilihan untuk tidak ikut gemetar.
Bukan karena kita kuat. Tapi karena kita sadar bahwa kita lemah. Dan kelemahan yang diakui justru lebih kokoh daripada kekuatan yang dipamerkan.
Saya masih takut pada banyak hal. Saya masih cemas pada masa depan. Saya
masih kadang terbangun di tengah malam dengan pikiran-pikiran yang tidak
diundang.
Tapi saya juga ingin melompat sebentar untuk mengutip seseorang yang, pada
hari ini—14 Mei, Hari Kenaikan Yesus Kristus—diperingati oleh umat Kristiani di
seluruh dunia karena telah menyelesaikan tugasnya di bumi.
“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan
kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia
kepadamu. Janganlah gelisah, dan janganlah takut.” (Yohanes 14:27)
Dan barangkali, damai yang seperti itu tidak buruk juga. Bukan damai yang
menjanjikan ketiadaan bahaya. Tapi damai yang tetap tenang meski bahaya masih
di sana.
Karena selama kita masih bisa memilih—antara takut dan percaya, antara
gemetar dan bersandar, antara ikut berlomba dan berhenti sejenak—selama itu
pula kita masih bisa menyalakan lampu. Melihat bahwa bayangan di sudut ruangan
itu hanyalah pakaian yang tergantung. Bukan monster. Bukan ancaman. Bukan akhir
dari segalanya.
Hanya bayangan. Milik kita sendiri.
Kendalikan pikiranmu, kendalikan hidupmu.
Wallahu a'lam.
Tulisan yang sangat dalam dan reflektif. Cara penyampaian analogi seperti dua lelaki dan sebilah pedang, serta ruangan gelap dan bayangan sendiri, membuat pembaca lebih mudah memahami bagaimana rasa takut bekerja dalam hidup manusia. Saya juga suka bagaimana tulisan ini menghubungkan psikologi, realita sosial-politik, dan nilai spiritual dalam satu alur yang mengalir. Penutupnya terasa menenangkan dan meninggalkan kesan yang kuat. Terus berkarya, karena tulisan seperti ini bukan hanya enak dibaca, tetapi juga membuat orang merenung.
BalasHapus