Sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnadnya, meskipun para ulama membahas kedudukannya sebagai hasan lighairihi (yang tentu saja masih bisa menjadi hujjah bagi kita untuk beramal), menyuguhkan sebuah gambaran menenangkan sekaligus menantang. Hadits itu berbunyi:
"Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Daud Al Hasyimi, telah menceritakan kepada kami Sa'id yakni Ibnu Abdurrahman Al Jumahi dari Musa bin Uqbah dari Al Audi dari Ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Diharamkan atas api neraka, setiap orang yang memberi kemudahan, lemah lembut serta dekat dengan manusia."
Hadits ini dengan kejelasannya yang menggetarkan, menyebutkan empat karakteristik yang menjadi kunci untuk terbebas dari jilatan api neraka.Yaitu : 'Hayyin' (rendah hati), 'Layyin' (lemah lembut), 'Qarib' (dekat dengan manusia), dan 'Sahl' (memberi kemudahan). Empat pilar akhlak yang jika kita renungi, sesungguhnya adalah sebuah jalan dari puncak kemuliaan insani.
Pada kesempatan ini, marilah kita fokuskan perenungan kita kepada bagian 'Qarib' (dekat dengan manusia).
Seperti yang kita tahu, 'Qarib' secara harfiah bermakna dekat. Namun, perlu kita ketahui bahwa seringkali Al-Qur'an dan hadits Nabi mengajak kita untuk melampaui definisi umum dan dangkal. Sejatinya, 'Qarib' bukanlah tentang dekat kepada siapa yang punya status jelas; bukan pula tentang siapa yang memiliki ikatan formal paling banyak. Bahkan 'Qarib' bukan pula kepada siapa yang paling banyak mendapat untung atau balasan yang setara. 'Qarib' adalah tentang siapa saja yang hatinya paling dekat. 'Qarib' adalah tentang siapa yang paling mudah dijangkau. 'Qarib' adalah siapa saja yang ada, baik ketika suka maupun duka.
Karena sejatinya, 'Qarib' adalah perihal rasa. 'Qarib' adalah keberadaan yang tak hilang karena gelombang semata.
Perlu kita ketahui, 'Qarib' bukan hanya wujud pelukan atau kata-kata manis. Justru 'Qarib' adalah sebuah kehadiran yang menenangkan, yang memilih untuk mendekat, bukan menjauh. Ia adalah ketenangan yang tak terucap, sebuah sandaran yang tak menghakimi.
Seorang yang 'Qarib' bukanlah pribadi yang selalu menjaga jarak, bukan orang yang membangun sekat-sekat kesombongan atau superioritas. Justru, 'Qarib' mampu merasakan denyut nadi orang lain dan 'Qarib' selalu hadir sebagai sandaran yang kokoh. 'Qarib' tak pernah membedakan status sosial, tak pernah membedakan latar belakang, bahkan tak pernah fokus akan masa lalu seseorang. Karena 'Qarib' menganggap setiap insan adalah sama di hadapan Allah SWT, dan 'Qarib' merasa bahwa setiap kepedihan orang lain adalah bagian dari tanggung jawab kemanusiaannya.
Seringkali kita menyaksikan dinamika hubungan manusia di mana "Qarib"-nya diukur atas dasar formalitas, diukur atas dasar keuntungan yang didapat, bahkan 'Qarib'-nya diukur atas dasar status dan timbal balik. Namun, hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa surga menanti 'Qarib' yang melampaui definisi-definisi dangkal tersebut. Ia justru mengajak kita memahami bahwa 'Qarib' yang sesungguhnya adalah mereka yang tetap hadir, tetap menyapa, tetap mengulurkan tangan, bahkan ketika seseorang itu tak mampu memenuhi harapan duniawi sekalipun!
Bukankah miris, ironi dan bahkan melelahkan ketika manusia mencari status, label, dan hanya ikatan formal, hanya untuk mendapatkan predikat 'Qarib'?
Sementara itu, bukankah Allah itu adalah Al-Qarib?
Bukankah Allah itu Yang Maha Dekat, tanpa syarat, tanpa menuntut balasan, bahkan ketika hamba-Nya berlumur dosa, Allah itu tetap 'Qarib' kepada hamba-Nya yang mau kembali .
Wallahu a'lam.
