written by : Thoriq Israr
Di antara riuhnya narasi yang mengagungkan label, status, dan ikatan formal, seringkali kita lupa bahwa cinta, pada hakikatnya adalah bahasa rasa yang lebih dalam dari sekadar definisi kata. Berapa banyak kisah yang kandas di tengah jalan bukan karena absennya "status" melainkan karena keringnya ruang nyaman dan ketulusan memberi? Berapa banyak hati yang tergores, hanya karena tuntutan akan sebuah pengakuan tertulis, melupakan bahwa substansi hubungan jauh melampaui sebatas ikrar lisan atau simbol jari?
Sebagian orang akan berteriak, "Bagaimana mungkin cinta itu ada tanpa ikatan yang sah? Itu namanya mengambang, tidak jelas!" Mereka terbiasa mengukur kedalaman samudra dengan rentang penglihatan di tepian pantai. Padahal,
seringkali ketulusan itu tak butuh panggung riuh, cukup bisikan dalam hati yang tenang, pengorbanan yang tak terucap, dan keberadaan yang menjadi selimut bagi jiwa yang letih.
Bagi saya, cinta sejati, yang tersembunyi di relung-relung hati, adalah tentang saling merasa nyaman. Ia adalah keheningan yang menenangkan di tengah badai, sandaran yang tak menghakimi, dan senyuman yang menyiratkan pengertian tanpa perlu kata. Lebih dari itu, ia adalah memberi. Bukan sekadar memberi materi, namun memberi waktu, memberi perhatian, memberi pengertian, bahkan memberi ruang untuk tumbuh dan menjadi diri sendiri, tanpa syarat, tanpa menuntut balik.
Bukankah kisah-kisah agung seringkali berawal dari "status" yang tak terdefinisikan, namun berujung pada pengakuan akan esensi yang tak tergoyahkan? Lihatlah narasi agung tentang Nabi Yusuf dan Zulaikha. Di awal, tiada "status" yang mengikat mereka dalam ikatan suci, apalagi ikatan duniawi.
Namun, di balik nafsu yang mula-mula menyesatkan Zulaikha, tersimpan sebentuk pengagungan, sebuah ketertarikan yang begitu mendalam hingga mengubah dirinya. Ia kehilangan segalanya, bahkan pandangannya, demi cintanya yang tak berbalas, namun tak pernah sirna. Ia tak menuntut "status" di hadapan manusia, karena baginya, kehadiran Yusuf, bahkan dalam batinnya, sudah cukup menggetarkan. Ia memberi, dari sisa-sisa kehormatan dan kenikmatan dunianya, dengan harapan semu yang terus menyala.
Dan bukankah pada akhirnya, ketika hati Zulaikha telah dibersihkan oleh penyesalan dan ketulusan, oleh pengorbanan yang tak terhitung, Allah juga yang kemudian mengangkat derajatnya? Allah-lah yang kemudian mengikatnya dengan Yusuf, bukan lagi dalam gejolak status. Melainkan dalam ikatan suci yang melampaui segala status duniawi. Mereka disatukan bukan karena tuntutan "pacaran" atau "penjajakan", melainkan karena hati yang telah ditempa, jiwa yang telah disucikan, dan kehendak Ilahi yang bekerja di balik layar.
Cinta yang murni seperti kisah Zulaikha di akhir perjalanannya adalah tentang pengorbanan yang membersihkan, penerimaan yang tanpa syarat, dan kenyamanan yang tercipta dari ketulusan.
Status, pada akhirnya hanyalah bingkai. Esensinya terletak pada kanvas hati yang saling melengkapi, pada ketenangan jiwa yang menemukan rumah, dan pada pemberian tanpa pamrih yang menjadi napas dalam setiap detik kebersamaan.
Maka, jika esok kita bertemu dengan dua insan atau kita sendiri yang terjebak dalam hal yang saling menyayangi, namun tak terbingkai status yang riuh, jangan buru-buru menghakimi. Barangkali, di sana ada sungai ketulusan yang mengalir lebih jernih, dan besarnya gunung kenyamanan yang berdiri lebih kokoh, dari sekadar label yang seringkali hanya menjadi topeng bagi kekosongan jiwa. Bukankah hati yang tulus selalu tahu ke mana ia harus berlabuh dan kepada siapa ia harus memberi terlepas dari segala definisi dan ekspektasi dunia?
Waallahua'lam
