Written by : Thoriq Israr
Pagi ini, di sela kesibukan mempersiapkan Ujian Akhir Semester yang tak kunjung selesai menyita pikiran, saya menyempatkan diri mendengarkan lantunan murattal dari Syekih Mishary Rasyid. Sebuah ayat dari Q.S. Hud, ayat 101, seolah berhenti dan menuntun pada sebuah perenungan mendalam yang tak bisa dihindari. Ayat itu berbunyi:
"Dan Kami tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri, karena itu tidak bermanfaat sedikit pun bagi yang mereka sembah selain Allah, ketika siksaan Tuhanmu datang. Dan (sembahan-sembahan itu) hanya menambah kehancuran bagi mereka."
Ayat ini, satu di antara ribuan peringatan dalam Al-Qur'an, secara tegas mengajak kita berpikir, bahkan memaksa kita untuk jujur pada diri sendiri. Kita seringkali melihat musibah yang datang—apakah itu bencana alam, wabah, atau kekacauan personal—sebagai hukuman eksternal, sebuah takdir yang dijatuhkan entah dari mana. Namun, Al-Qur'an membalikkan perspektif itu. Ia menegaskan bahwa seringkali, akar masalahnya justru ada pada diri kita sendiri. Sebuah kezaliman yang kita pupuk, bahkan kita tanam, sengaja atau tidak, dalam setiap detik pilihan hidup.
Ayat ini mencoba membuat kita merenung lebih dalam: Bagaimana seseorang menempatkan prioritas dalam hidupnya? Ke mana hati dan pikiran kita tertaut? Ke mana harapan itu disandarkan? Ke mana kebahagiaan itu digantungkan? Dan bahkan, kepada siapa kita mengabdi?
Betapa banyak dari kita secara sadar atau tidak sadar, telah menjadikan "berhala-berhala modern" sebagai tumpuan. Kita sibuk mengejar target-target duniawi yang seolah tak berujung, hingga melupakan kewajiban spiritual yang mestinya menjadi prioritas hidup. Bukankah kita mendambakan pujian manusia lebih dari rida Ilahi? Bukankah kita kerap menjual kedamaian sejati demi nikmat sesaat yang fana dan palsu?
Mari kita renungkan dengan jujur: Akankah kumpulan harta yang kita kumpulkan hari ini mampu membeli kedamaian sejati pada diri kita? Akankah jabatan yang kita perebutkan dan usahakan mati-matian mampu menenangkan kegelisahan hati kita yang sesungguhnya tak terdefinisikan materi? Akankah pujian manusia yang kita damba-dambakan mampu menghalau ketakutan kita akan kematian yang pasti datang?
Kalau jawabannya adalah "tidak," maka firman-Nya begitu menusuk: "...maka (sembahan-sembahan itu) hanya menambah kehancuran bagi mereka." Ini bukan ancaman belaka, melainkan sebuah realitas pahit. Keterikatan kita pada selain-Nya, pada hal-hal fana yang kita agungkan, justru akan menjadi beban, bahkan sumber kehancuran ketika segala bentuk fana dunia mulai tersingkap.
Pada akhirnya, ayat ini adalah undangan, sebuah panggilan dari Tuhan, untuk kita gunakan sebagai media evaluasi jujur. Bukan untuk menghakimi masa lalu dengan segala penyesalannya, tapi untuk menyelaraskan kembali kehidupan masa kini. Ayat ini mengingatkan kita bahwa keberkahan dan kedamaian sejati itu ada, ketika kita mau dan ingin selaras dengan kehendak Tuhan. Ia mengajak kita untuk bertanya, dengan segenap kejujuran: Kepada siapa aku menaruh harapan yang sebenarnya? Dan apakah pilihan kita hari ini akan menjadi penyelamat yang mengantarkan pada kedamaian abadi, atau justru hanya menambah kehancuran seperti yang telah disebutkan dalam Al-Qur'an?
Wallahu a'lam.
