Aku pulang dengan tangan hampa, tapi
kepala penuh.
Kini Ramadhan telah tiba. Aku masih
membawa semua pertanyaan itu: tentang sampah yang tak terpungut, tentang mawar
yang kusut, tentang dosa yang menghantui, dan tentang teriakan sahur yang
mengganggu.
Tapi mungkin, justru itulah esensi
Ramadhan: bukan untuk menemukan semua jawaban, tapi untuk menjalani semua
proses dengan lebih sadar.
Mereka yang di perut bumi tak
menjawab pertanyaanku. Mereka hanya diam. Tapi mungkin, dengan diamnya itulah
semua jawaban hadir: bahwa hidup ini misteri yang harus dijalani, bukan
teka-teki yang harus dipecahkan. Bahwa sampah harus dipungut, mawar bisa disiram,
puasa harus dimaknai, dan suara harus dilembutkan.
Bahwa tak apa tak tahu segalanya, asal terus bertanya.
Bahwa doa terbaik untuk mereka yang telah pergi, adalah saat kita yang masih hidup menjadi lebih baik karenanya.
Maka, kepada-Mu, Tuhan yang Maha
Lembut, yang menguasai hati di atas segala hati, aku berdoa: jadikan Ramadhan
ini bukan sekadar puasa ular yang berganti kulit, tapi puasa kupu-kupu yang
mengubah bentuk. Aamiin.
Dan untuk mereka yang terbangun karena teriakan sahur tadi, maafkanlah kami. Kami masih belajar menjadi lembut.
Kendalikan pikiranmu, kendalikan hidupmu.
Wallahu a'lam.