Beberapa waktu yang lalu aku memulai sebuah perjalanan. Jika kali pertama aku bergabung layaknya seorang korban yang dievakuasi dari ganasnya medan perang, maka perjalanan ini adalah camp pelatihan yang menandaiku sebagai prajurit dengan tanggung jawab atas diri sendiri. Mengingat betapa hina dan banyaknya kelalaian yang aku perbuat bahkan hingga saat sebelum aku menulis ini. Betapa kasihnya sang guru memuliakan kami. Tak habis pikir, bagaimana cahaya itu mau menaungi dan membilas gelap-busuk kutukan yang kami tanam sendiri dalam hati?
Aku takut melupakan perasaan ini. Kekhawatiran akan lemahnya diri untuk melaksanakan tugas perjalanan ini. Bukan karena orang lain, tapi ini adalah demi kepentinganku sendiri; aku ingin diriku agar selamat. Egois memang. Semakin banyak waktu kulalui, semakin kusadari betapa singkatnya kehidupan ini. Hari demi hari, hal-hal menyedihkan menghampiri, indahnya memori pun pergi. Maka dia mengingatkan: "Mengapa tidak kita pelajari ayah dari para pembawa pesan? Ia Sendirian, tetapi tidak merasa kesepian. Karena ia tidak mencari keagungan, melainkan Yang Maha Agung yang ia tuju, pada-Nya semua kebenaran".
10 hari berlalu. Namun aku tidak yakin berapa lama waktu yang kuperlukan untuk berada di sana. Pelatihan itu berakhir, meskipun kisah perjalanan selanjutnya baru akan diukir.
Akankah aku setia pada kehormatan ini? Atau justru aku akan menodainya, menjatuhkan diri ke jurang kegelapan, lalu berujung aku kehilangan kekasih?
Wahai yang menguasai hati, Engkau tahu Kau tak akan mengkhianati janji. Siapa lagi yang akan menenangkan dan menyelamatkan jiwa kami?
