Maghrib tiba. Adzan berkumandang, pertanda Ramadhan
resmi masuk.
Kami singgah di rumah nenek. Di
sanalah, setelah shalat berjamaah, obrolan soal munggahan mengalir. Ayah
bercerita tentang orang-orang kota yang pulang kampung untuk sahur pertama,
untuk malam pertama Ramadhan.
Tapi dalam perjalanan pulang ayahku
berkata dengan tawa ringannya, “Orang-orang pulang, tapi apakah mereka akan
benar-benar berpuasa, itu urusan lain.”
Aku merenung, bahkan untuk diriku
sendiri. Jika yang mungkin dipermasalahkan orang adalah puasa sebagai menahan
makan-minum dari subuh hingga maghrib, bagaimana dengan lapisan yang lebih
dalam? Bagaimana dengan perintah Tuhan atas puasa dalam QS. Al-Baqarah: 183:
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Takwa. Itulah
tujuan akhirnya. Bukan sekadar perut kempes dan tenggorokan kering. Tapi
perubahan diri. Apakah puasaku tahun ini akan menjadi puasa kupu-kupu
yang mengubah total, atau hanya puasa ular—sekadar berganti kulit, tapi
tetap ular yang sama? Masih berbisa, masih melata, masih memangsa.
Aku takut. Siapa tahu nanti, entah
karena apa, aku membiarkan diriku ikut makan di warung nasi yang tirainya
diturunkan pada siang hari di bulan Ramadhan. Aku takut pada diriku sendiri,
pada kutukan dosa yang bahkan setelah berhenti dilakukan, seolah meninggalkan
bau yang tak bisa dihilangkan.
Tapi kemudian, kulihat mereka
semua—ayah, ibu, adik. Kulihat keluarga yang berkumpul, tertawa, berbagi cerita,
dan mungkin bertengkar sesekali. Realita sosial ini, kehidupan bersama ini,
menjadi pelipur lara.
Mungkin inilah mengapa Tuhan
menganjurkan kita untuk beramal secara bersama. Shalat berjamaah 27 derajat
lebih utama. Bukan sekadar soal pahala, tapi karena dalam kebersamaan,
kesadaran itu terdistribusi. Kita saling mengingatkan, saling menahan, dan saling
menguatkan.
QS. Al-'Asr: 3 mengingatkan:
“Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.”
Tafsir Kemenag menjelaskan bahwa
manusia tidak akan merugi jika ia beriman, beramal saleh, dan saling
menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Kebersamaan adalah kunci.
Mungkin Tuhan menghendaki kita hidup
bersama, bukan sendiri. Realita sosial itu sendiri bukanlah dosa, selama ia
tidak bertentangan dengan apa yang diperintahkan-Nya. Dan di dalam kebersamaan
itu, kita berharap ada ruang ampunan.
Lalu malam berlalu. Dan datanglah
sahur pertama yang mengagetkan.
Dini hari, sekitar pukul tiga, aku
dikejutkan oleh suara dari masjid sekitar. Bukan adzan, bukan lantunan ayat
yang merdu. Tapi teriakan-teriakan dengan nada tinggi dan marah. Seseorang
berteriak keras membangunkan orang sahur, dengan intonasi yang terdengar
seperti sedang mengajak bertengkar.
Aku terbangun dengan emosi siap
bertarung. Dan dalam setengah sadar itu, aku membayangkan ada seorang
non-muslim yang baru pertama kali mengalami Ramadhan di lingkungan ini. Mungkin
ia pindahan dari Jakarta, atau turis asing yang sedang tinggal sementara. Apa
yang ada di benaknya saat mendengar teriakan itu?
Bukan kedamaian. Bukan kehangatan.
Mungkin justru: “Ugh, mimpi buruk ini akan berlangsung selama sebulan ke
depan.”
Allah berfirman kepada Nabi-Nya:
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali Imran: 159)
Ini adalah ayat tentang soft
power dakwah. Tentang bagaimana agama ini disebarkan bukan dengan pedang,
tapi dengan kelembutan. Membangunkan sahur adalah perbuatan baik. Tapi niat
baik tanpa kemasan yang baik, bisa berubah jadi teror.
Rumi berkata: “The art of knowing
is knowing what to ignore.” Seni mengetahui adalah tahu apa yang harus
diabaikan. Mungkin seni berdakwah adalah tahu kapan harus tegas dan kapan harus
lembut. Membangunkan sahur dengan teriakan marah adalah kegagalan membaca
situasi. Ia adalah kebaikan yang salah alamat.
C.S. Lewis, cendekiawan Kristen, menulis:
“Kebaikan tanpa kasih sayang sama kejamnya dengan kejahatan.”
Niatnya baik. Tapi hasilnya? Orang jadi malas ke masjid. Orang jadi alergi dengan suara azan. Orang jadi membenci Ramadhan. Na'udzubillah.
Aku jadi berpikir: mungkin yang perlu kita bangunkan bukan hanya perut mereka yang tidur, tapi juga hati kita sendiri yang kadang beku. Mungkin cara terbaik membangunkan orang untuk sahur adalah dengan menyadarkan mereka bahwa di ujung kegelapan, selalu ada terang yang menanti—dan terang itu datang dengan lembut, seperti fajar, bukan dengan teriakan.
written by : Memuat...