Di antara pusara-pusara itu, aku
merenungi diriku sendiri.
Siapa yang tak rindu pada dirinya
sendiri yang dulu? Yang polos, yang "tidak mengerti", sehingga dosa
seolah tak punya pijakan. Waktu kecil, berbuat salah terasa ringan, karena kita
tak sepenuhnya sadar apa konsekuensinya. Sekarang, setelah tahu, beban itu
justru lebih berat. Setiap kali sadar berbuat salah, terasa seperti menusuk
tubuh sendiri dengan pisau tumpul—perlahan, sakit, dan berdarah.
Jalaluddin Rumi berkata:
“Kemarin aku cerdas, ingin mengubah dunia. Hari ini aku bijaksana, maka aku mengubah diriku sendiri.”
Kerinduan pada masa lalu adalah
nostalgia. Kebijaksanaan adalah menerima diri sekarang dan berproses. Tapi
proses itu melelahkan. Kadang kusut, kenapa aku tidak diambil saja saat iman
sedang tinggi-tingginya? Saat masih rajin, saat masih "bersih"?
Mengapa Tuhan memberi umur panjang,
jika ujung-ujungnya hanya menambah dosa?
Tapi kemudian aku ingat firman-Nya dalam hadits qudsi:
“Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Mungkin, justru di situlah
rahmat-Nya yang tak terduga: Dia memberi umur panjang bukan untuk kita menambah
dosa, tapi untuk kita punya kesempatan memperbaiki dosa. Untuk
bertaubat. Untuk kembali. Inilah rahmat yang tersembunyi di balik
"kutukan" panjang umur.
Setelah ziarah, kami shalat Maghrib
di kampung Ibu. Di sana, aku bertemu seseorang. Teman masa kecil, yang juga
kerabat jauh. Aku hampir tak mengenalinya—ia sudah besar, tinggi, dengan raut
muka yang berubah. Kupikir ia kuliah seperti aku, ternyata ia masih kelas 11
SMK, jurusan sepeda motor.
Waktu telah mengukir ulang wajahnya.
Tapi di matanya, aku melihat kilau yang sama seperti dulu saat kami kecil—saat
berlarian di sawah, membayangkan masa depan, dan percaya bahwa dunia adalah
tempat yang luas dan tak pernah jahat.
Seorang ulama pernah kira-kira
berpesan, rendahkan hati pada yang lebih tua karena mereka mendahului kita atas
amal dan keimanannya, dan rendahkan pula pada yang lebih muda karena kita
mendahului mereka dalam berbuat dosa.
Di sini, di kampung halaman, hirarki
itu luntur. Menyisakan jiwa yang bertanya, tanpa suara: akankah kita
dipertemukan lagi di sana, dalam keadaan terbaik?
Allah berfirman:
“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang (dalam hati mereka).” (QS. Maryam: 96).
Aku berharap. Aku berdoa. Aku ingin diampuni.
written by : Memuat...