| https://www.makamalazhar.co.id/hukum-mencabut-rumput-pohon-kuburan/ |
Setiap hari, selalu ada orang yang mati. Aku bertanya-tanya, apakah kelak semua tanah akan habis digunakan sebagai lahan pemakaman?
Ayahku bercerita, saat mengunjungi makam nenek. Dulu, katanya, tempat ini adalah hutan belantara. Saat usianya sekitar sepuluh tahun, ia bersama kakek merapikan lokasi ini, mungkin dengan membabat ilalang. Kini, tempat itu menjadi pemakaman umum warga setempat. Berapa jasad yang telah dikubur di sini?
Ayahku berkata dengan ringan, “Semuanya adalah kuburan.”
Mungkin maksudnya: kita tak pernah benar-benar berdiri di atas tanah yang netral. Kita selalu berdiri di atas sisa-sisa kehidupan yang telah usai. Fosil, tulang-belulang, debu yang telah kembali ke debu. Tanah yang kupijak saat ini, dulunya adalah dada seseorang yang berdegup.
“Dari tanah kamu berasal, dan kepada tanah kamu akan kembali.” (QS. Thaha: 55)
Tapi tanah tak pernah diam. Ia hidup. Jasad mereka kini adalah bank unsur hara bagi pohon-pohon yang rindang. Kupu-kupu terbang, semut merayap, akar-akar menjalar—di atas tanah yang di dalamnya terbujur kaku ribuan manusia. Ekosistem terus berjalan, meski beberapa bagian di dalamnya mati.
Apakah ini sebuah tragedi, atau justru simfoni kehidupan yang tidak dipahami?
Aku mengambil sebuah kutipan:
“Kita adalah jumlah dari pilihan-pilihan kita.” – Jean-Paul Sartre
Jika kita adalah pilihan, maka tanah yang kita pijak adalah akumulasi dari pilihan jutaan manusia sebelumnya. Kita berdiri di atas sejarah. Kita hidup di atas mereka yang telah mati.
Lalu, bagaimana jika aku tak dikubur? Jika aku mati tenggelam di laut, hilang di hutan, atau terbakar menjadi abu? Apakah aku akan tetap punya pusara yang diziarahi?
Mungkin tidak. Tapi bukankah yang didoakan adalah ruh, bukan jasad? Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang manusia meninggal, maka terputuslah amalnya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau doa anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim, no. 1631).
Mungkin Tuhan punya cara lain agar aku "dikubur" dalam doa-doa orang-orang yang pernah kutemui, atau bahkan dalam tulisan-tulisan yang kutinggalkan. Itulah "kuburan" abadi seorang muslim.
written by : Memuat...