| Sumber: https://www.flickr.com/photos/mbahwali/9795165044 |
PROLOG
Sore itu, 30 Sya'ban 1447 Hijriyah. Matahari mulai condong ke barat, pertanda maghrib perlahan menghampiri—pertanda Ramadhan akan segera mengetuk pintu. Adik perempuanku menjemput. Tampil rapi, sebagaimana mestinya seorang muslimah yang hendak bersilaturahmi. Meski kali ini, silaturahmi dengan mereka yang telah tiada.
Kami meluncur ke tempat pemakaman umum. Di sana, di atas pusara para pendahulu—kakek, nenek, buyut, dan mungkin ratusan ribu mimpi yang terkubur—aku ingin berpamitan pada Sya'ban. Sambil bertanya-tanya: akankah Ramadhan kali ini berbeda?
Atau jangan-jangan, akankah aku masih hidup untu melihat Ramadhan berikutnya?
Mawar, Sampah, dan Tubuh yang Terbungkus Rapi
Adikku mengenakan pakaian terbaiknya. Aku sempat berpikir, apakah semua orang yang berziarah ke sini selalu berpakaian 'bagus'? Atau hanya karena ini jelang Ramadhan, sehingga ada semangat khusus untuk tampil rapi?
“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid...” (QS. Al-A'raf: 31)
Memang, ayat ini berbicara tentang masjid. Tapi Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin memperluas maknanya: setiap majelis ibadah dan momen penghormatan layak diperlakukan sama. Ziarah, bisa dikatakan sebagai pertemuan dengan yang gaib. Maka berpakaian rapi adalah bentuk penghormatan kepada mereka yang tak lagi bisa menghormati kita kembali.
Lalu, kulihat beberapa orang menyiram pusara dengan air bunga mawar. Aku tak tahu persis asal-usulnya. Apakah ini ajaran Islam, atau suntingan budaya lokal yang kemudian mengkristal jadi tradisi? Setelah kucari tahu, di makam Yahudi, orang-orang meletakkan batu kecil sebagai tanda kunjungan. Di makam Tionghoa, mereka menabur kertas-kertas warna. Mungkin, setiap budaya punya caranya sendiri untuk mengatakan: “Aku masih ingat kamu. Aku masih mencintaimu.”
Tapi kemudian, ada pemandangan yang mengoyak.
Sampah. Berserakan di antara pusara. Botol plastik bekas air mineral, bungkus makanan, potongan kardus. Di tempat yang seharusnya hening, sampah-sampah itu berteriak.
Hadiah apa yang paling tidak pantas untuk orang yang kita cintai? Bukan luka, bukan air mata, tapi sampah plastik. Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara setan.” (QS. Al-Isra: 26-27).
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan, pemboros bukan hanya soal uang, tapi juga soal merusak keindahan ciptaan Tuhan. Mengotori lingkungan adalah bentuk pemborosan yang tak kalah keji. Dalam kasus ini, ia adalah "kebodohan yang berbusana ritual."
Viktor Frankl, psikiater penyintas Holocaust, pernah menulis: “Between stimulus and response, there is a space. In that space is our power to choose our response.” (Di antara rangsangan dan respons, ada ruang. Di ruang itulah letak kekuatan kita memilih respons).
Sampah yang berserakan adalah stimulus. Apakah kita memilih memungut, atau mengabaikan dan ikut membuang? Itulah respons yang mencerminkan kesadaran kita. Di makam, di tempat di mana kesadaran akan kematian seharusnya paling pekat, kita justru memilih respons yang paling rendah.
Mengherankan memang. Apakah mereka yang membuang sampah di sini mengira tanah ini adalah tempat pembuangan akhir, bukan tempat peristirahatan terakhir?
written by : Memuat...