written by : Thoriq Israr
Di antara segala ikatan yang kita jalin di dunia, persahabatan seringkali dianggap sebagai salah satu yang paling murni dan tulus. Kita membangun relasi di atas dasar kesamaan hobi, pekerjaan, atau sekadar kenyamanan. Kita percaya bahwa ikatan ini akan kekal, menjadi tempat berbagi suka dan duka hingga akhir hayat.
Namun, Al-Qur'an, dengan kebenaran mutlaknya, menyuguhkan sebuah realitas yang mungkin mengejutkan, bahkan menggetarkan. Dalam Surah Az-Zukhruf, ayat 67, firman-Nya seolah menyingkap tirai masa depan dan menunjukkan sebuah pemandangan yang tak terduga:
اَلْاَخِلَّاۤءُ يَوْمَىِٕذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ ۗ
"Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa."
Ayat ini adalah sebuah tamparan keras bagi setiap relasi yang dibangun di atas fondasi yang rapuh. Ia berbicara tentang sebuah hari di mana semua hubungan kecuali yang dibangun atas dasar takwa akan pecah dan berubah menjadi permusuhan. Sebuah ironi yang begitu menyakitkan: mereka yang di dunia begitu akrab, saling menopang dalam dosa, saling membenarkan dalam kelalaian, akan saling menyalahkan dan mengutuk di hadapan Sang Pengadil.
"Kenapa engkau tidak mengingatkanku?
Kenapa engkau mengajakku pada jalan ini?"
akan menjadi pekik-pekik penyesalan yang terlambat.
Mengapa bisa demikian? Karena persahabatan yang tidak dilandasi takwa, pada hakikatnya, adalah persahabatan yang dibangun atas dasar kepentingan yang fana. Mungkin karena keuntungan materi, kenikmatan sesaat, atau sekadar hasrat untuk memuaskan ego. Ketika keuntungan itu hilang, ketika kenikmatan itu sirna, dan ketika pertanggungjawaban di Hari Akhir datang, maka ikatan itu akan putus. Apa yang dulu dianggap sebagai jembatan kebahagiaan, seketika berubah menjadi jembatan menuju jurang.
Namun, di tengah gambaran yang suram itu, ada sebuah pengecualian yang begitu menenangkan: "kecuali mereka yang bertakwa."
Ini adalah potret persahabatan yang sesungguhnya. Pertemanan yang didasari oleh ketakutan kepada Allah. Bukan ketakutan yang membuat menjauh, melainkan ketakutan yang melahirkan ketaatan dan kasih sayang. Mereka adalah teman-teman yang saling mengingatkan dalam kebaikan, saling menopang dalam kesulitan, dan saling menarik menuju jalan yang lurus. Ketika salah satu di antara mereka berbuat salah, yang lain tidak membiarkannya. Ketika yang lain lalai, yang lain segera mengingatkan.
Hubungan mereka tidak dibangun di atas dasar keuntungan duniawi, melainkan di atas cita-cita abadi untuk meraih keridhaan Allah. Maka, ketika Hari Kiamat tiba, ikatan mereka tidak akan pecah. Sebaliknya, ia akan semakin kokoh. Mereka akan menjadi saksi kebaikan satu sama lain, menjadi penolong di tengah kegelisahan, dan menjadi teman sejati yang saling menggandeng tangan menuju surga.
Maka, perenungan atas ayat ini adalah ajakan untuk jujur. Jujur dalam menilai kembali lingkaran pertemanan kita. Apakah teman-teman kita adalah mereka yang mengajak kepada ketaatan, atau justru yang melalaikan? Apakah persahabatan kita adalah investasi untuk akhirat, atau hanya sekadar peneman untuk perjalanan yang fana?
Karena pada akhirnya,
sahabat sejati bukanlah mereka yang menemani kita tertawa, melainkan mereka yang rela menjadi cermin dan mengingatkan, agar kita tidak menangis dalam penyesalan yang tak berujung.
Wallahu a'lam.
