Written by : Memuat
Saat itu aku termenung.
Kenapa aku merasakan perasaan ini?
Bagaimana tanganku merasakan sentuhan ini?
Juga mengapa aku bisa berpikir seperti ini?
Lalu aku kepalkan tanganku.
Aku benar-benar kehilangan arah.
Yang kulakukan hanya terdiam, berharap semua akan baik-baik saja.
Apapun yang kukatakan, sepertinya akan memperburuk keadaan.
Namun, aku merasa harus mengatakan sesuatu.
Aku pun mengutarakan apa yang kupikirkan.
Namun kamu tetap meninggalkanku.
Padahal aku sudah berusaha untuk menerima perasaanmu.
Padahal aku sudah berjuang untuk menerima perasaan ini.
Semua terjadi seakan itu adalah kebohongan.
Hanya karena hal kecil, dan itu yang membuatmu menangis.
Ya, itu adalah hal kecil.
Kalau itu bisa membuatmu menangis, mengapa tidak kamu tertawakan saja?
Kamu bilang kamu mengerti perasaanku, dan kamu tidak ingin aku kecewa.
Tapi bukankah air mata kesedihan yang kamu teteskan karena mengetahui perasaanku, lebih membuat hatiku tercabik-cabik?
Aku ingin bahagia bersamamu, tapi kamu telah meninggalkanku.
Aku berlari melewati hampanya hatiku.
Aku banjiri pikiranku dengan sebuah pertanyaan:
Seratus tahun ke depan, akankah perasaanku bertahan?
Dingin dunia menerpa, dan aku berlutut di sana.
Kamu yang kukasihi meninggalkanku.
Mereka yang kupercayai mengkhianatiku.
Mereka yang kukagumi menyakitiku.
Mereka yang kuhargai tidak percaya padaku.
Seakan dunia sedang memojokkan diriku.
Apa yang kukatakan, mereka tidak mengerti.
Apa yang kurasakan, tak pernah mereka peduli.
Sembarangan saja, mereka mengira-ngira apa yang kualami.
Mereka tidak peduli, panjangnya cerita yang kujalani.
Yang mereka peduli, hanyalah apa yang kuberi.
Oh Tuhan, mengapa Engkau beri aku kesadaran atas tubuh manusia ini?
Sehingga aku merasakan perasaan ini?
Sehingga kurasakan kasar pasir di sini?
Sehingga aku berpikir seperti ini?
Padahal, manusia ini hanya bagian dari rencana yang sudah Engkau tetapkan?
Hatiku tertunduk, berusaha menerima kenyataan ini.
Aku harus menangis, sebelum rasa ini merusak hidupku.
Menggema dalam kesepian, isak tawa menyesakkan dadaku.
Seseorang menepuk pundakku dan bertanya, 'ada apa dengan dirimu?'
Aku menoleh, mataku berkaca dan tawaku tersedu.
Aku teringat, dunia adalah tentang bagaimana aku menyikapi.
Ini bukanlah tragedi melainkan sebuah komedi.
Tentu yang terlihat saat ini, aku hanyalah seorang badut yang menangis tanpa aksi.
Ah, akhirnya aku pun hanya peduli pada diriku sendiri.
Meski terlintas, aku bersyukur tidak mengatakan bahwa aku menyesal.
Aku putuskan untuk mengangkat wajahku.
Hari-hari yang kulalui tidak akan kusiakan terbenam dalam duka.
Aku akan terus memperhatikanmu, meski itu hanya sebuah kesalahpahaman.
Tak peduli bagaimana pendapatmu padaku, aku akan tetap menyayangimu.
Setidaknya itulah yang kuinginkan saat ini.
