Klik tulisan ini? Kemungkinan Anda miskin! Kenapa
banyak orang miskin di Indonesia masih percaya bahwa membaca surah Al-Waqiah 3x
sehari akan melapangkan rezeki, sedangkan membaca buku 3 halaman sehari tidak
mau? Mengapa kita lebih hafal ritual magis ‘pengundang kekayaan’ daripada
prinsip dasar manajemen keuangan?
Di kalangan kita bahkan ada, yang menghabiskan uangnya
untuk wafak (semacam jimat) bertuliskan ayat Al-Quran, tapi merenungkan ayat
Al-Quran pada mushaf di rumah tidak pernah. Para pekerja marah kalau gaji
dipotong, tapi bergadang tanpa arti semalaman, subuh ketiduran, dzuhur
dilewatkan. Hutang ke saudara di tumpuk-tumpuk, katanya, “nanti juga ada rezeki
mendadak.” Ini namanya melawak.
Sekarang, kita akan coba keluar dari kebiasaan
orang-orang miskin. Kita mulai dengan mematahkan mitos ‘ayat sakti’ dengan
logika Quran itu sendiri.
“Seburuk-buruk makhluk yang bergerak di atas bumi dalam pandangan Allah ialah mereka yang tuli dan bisu (tidak mau mendengarkan dan tidak mau mengatakan kebenaran), yaitu orang-orang yang tidak mengerti.” [QS Al-Anfal (8): 22]
Tentu bagus mengamalkan Surah Al-Waqiah, tetapi bagi Anda
yang berharap kaya hanya dengan membacanya, pernahkah Anda berpikir, apa
sebenarnya yang sedang Anda baca? Mantra sihir? Bahkan mungkin Anda tidak ingat
apa yang dibahas dalam surah itu. Jika Anda membaca petunjuk ‘cara
menghilangkan haus’ tetapi tidak pernah minum setelah itu, apakah petunjuk itu
berguna? Demikian pula, Surah Al-Waqiah tidak akan menyelamatkan Anda dari
kemiskinan begitu saja; mengamalkan bukan hanya tentang membaca. Jika hanya
dengan membaca ayat, mengapa Nabi Muhammad SAW tetap berdagang? Mengapa
Khalifah Umar malah membangun sistem irigasi alih-alih membagikan mushaf?
Dalam surah Al-Waqiah sendiri menggambarkan nasib dari
dua golongan yang berbeda: satu golongan mulia, sementara yang lain sengsara.
Sebenarnya ada satu lagi ‘golongan yang paling dahulu’, saya ingin
menyatukannya dengan golongan yang mulia. Coba Anda bayangkan, bagaimana ciri
dari tiap-tiap golongan ketika hidup di dunia? Bagaimana sikap setiap golongan
dalam menghadapi tantangan?
Orang yang terdahulu lebih banyak yang beruntung
karena mereka bersegera. Ketika kita bersegera melaksanakan perintah Allah,
kemungkinan kita untuk menyelesaikan perintah itu lebih besar. Bayangkan hidup
ini sebagai sebuah maraton; kita harus mencapai garis finish sebelum waktu kita
habis. Itulah alasannya, mengapa orang yang suka menunda untuk berbuat
seringkali gagal—mereka lalai, terbuai, dan menyia-nyiakan kesempatan hidup
yang telah diberikan.
Lalu, apakah kita ingin termasuk dalam golongan
orang-orang yang sengsara? Apakah kita akan tetap mempertahankan budaya miskin
yang dianggap sebagai takdir?
“Bertebaranlah kamu di bumi,
carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu
beruntung.” [QS Al-Jumuah (62): 10]
Jika kita renungkan, mengapa orang-orang di sekitar
kita masih miskin? Mungkin bukan karena tidak pernah membaca Al-Waqiah, tetapi
ada kebiasaan mematikan yang mereka lakukan—kita mengutuk diri kita sendiri
dengan mental orang miskin.
Banyak orang kita itu mentalnya gratisan, ingin
memperoleh sesuatu/bantuan tanpa berusaha: rebutan sembako, mengemis di media
sosial, atau bahkan memeras orang untuk berikan THR. Namun ketika diajak
bekerja keras, yang diucapkan adalah “sudahlah, fokus saja pada akhirat, tidak perlu mengejar dunia.” Padahal “there’s
no such thing as a free lunch”; setiap sesuatu itu ada bayarannya, termasuk
ekspektasi Anda pada hidup. Dunia ini sejatinya memang ujian dan tempat
bersusah payah. Anda akan sengsara jika menolak kenyataan ini.
Kemudian, kita takut pada inovasi, berpegang buta pada
tradisi. Di samping takut bekerja menggunakan teknologi, kita sering mendengar
“nanti kualat” atau “nanti salah adab.” Namun, kenyataannya, kita sudah nyaman
dengan pengetahuan yang lama, malas mempelajari ilmu baru, apalagi
mengembangkan teknologi . Keangkuhan seperti inilah yang sebenarnya membuat
kita terjebak dalam kemiskinan. Dunia ini dinamis, dan kita harus mau terus
belajar menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Belum selesai sampai di situ, orang-orang miskin ini
hobi sekali gengsi dan boros. Sewa iPhone, top up hal-hal tidak penting, pergi
ke konser, sambil meninggalkan kewajiban. Naik haji belum mampu, dipaksakan
dengan berhutang. Pesta secara rutin digelar, dan itu di atas kredit. Jangankan
tabungan darurat, hutang saja membayarnya sangat berat. Ketika terjadi suatu
musibah, sakit keras, sudah tidak bisa apa-apa lagi. Matilah kita.
“Kita membeli barang-barang yang
tidak kita butuhkan, dengan uang yang tidak kita miliki, untuk membuat kagum
orang-orang yang tidak kita sukai.” [Dave Ramsey]
Ada nilai-nilai Islam yang kita lupakan: Islam sebagai
rahmat bagi alam semesta. Tentu, orang yang memberi rahmat akan terkelompokkan
ke dalam orang-orang mulia. Sifat mulia apa di antara kita yang paling melekat
pada suri teladan kita? Muhammad Al-Amin, beliau adalah sosok yang amanah.
Karena sifat inilah, Khadijah mempercayakan bisnisnya. Karena sifat ini pula,
ketika orang kafir tidak ingin menerima kebenaran, mereka menganggapnya sudah
gila. Walaupun memang ke-‘gila’-an ini juga tampak saat semestinya beliau
berhijrah ke Madinah; Ia tidak berangkat sebelum mengembalikan harta yang
diamanahkan kepadanya, kendati itu berarti merisikokan nyawanya sendiri!
Meskipun akhirnya tugas ini didelegasikan kepada Sayyidina Ali, ini menunjukkan
betapa Rasulullah SAW profesional; tuntas dalam pekerjaannya.
Ada yang salah terkait pemahaman kita tentang tawakal.
“Ah, yang penting sudah berbuat, kita serahkan sisanya kepada Allah.” Dalam
Perang Badar, 300 pasukan Muslim menang melawan 1000 pasukan Makkah, itu bukan
keajaiban dari doa semata. Termasuk tawakal Nabi SAW, bagaimana mengatur
strategi yang bernas untuk menghadapi situasi sulit itu hingga akhir
pertempuran. Sunnatullah; sudah menjadi hukum Allah bahwa sesuatu itu terjadi
karena ada sebabnya. Tawakal sama sekali bukan pasif.
Kita juga bisa lihat tokoh-tokoh di zaman ini. Lebih
kaya mana: orang yang suka berhutang lalu kabur, atau orang yang berkomitmen
dan menjaga kualitas produk? Jangan jauh-jauh, lihatlah Mark Zuckerberg,
pemilik saham Meta Platform yang kini Whatsapp dan Instagram berada di
dalamnya. Bayangkanlah, setiap hari lebih dari 1 miliar pengguna aktif—itu
sebanding dengan seperdelapan penduduk bumi!—terbantu dalam masalah
komunikasinya. Kemanfaatan yang dia berikan memiliki korelasi positif dengan
kekayaan bersihnya, sekitar Rp3.594 Triliun. Zuckerberg mungkin tak pernah baca
Al-Waqiah, tapi ia hidupkan prinsip Amanah (profesionalisme) dan Ijtihad (usaha
maksimal) yang justru diajarkan Islam.
“Jika kamu berbuat baik, kamu telah
berbuat baik untuk dirimu sendiri; dan jika berbuat jahat, maka (kejahatan) itu
pun untuk dirimu sendiri” [QS Al-Isra (17): 7]
Baiklah, jika kita bicara kekayaan, saya juga hanya
seorang bocah dengan penghasilan jauh di bawah UMR. Namun, kekayaan bukan hanya
soal uang, dan tujuan hidup kita bukan sebatas mencari kekayaan. Sebagai
seorang muslim, kita diciptakan untuk mengabdi. Dalam pengabdian itu, Islam
haruslah memberi manfaat kepada masyarakat sekitar dan alam raya seluruhnya.
Daripada membaca Al-Waqiah tanpa perenungan, lebih
baik amalkan 6 hal ini:
1.
Tekan
mental gratisan
2.
Buang
rasa takut dan kesombongan jauh-jauh
3.
Jangan
toleransi pemborosan dan gengsi
4.
Tanamkan
amanah/responsibility dalam diri
5.
Kerja
keras dan profesional; bertawakal secara aktif
6.
Miliki
problem-solving mindset
Untuk sampai ke akhirat, kita harus melalui kehidupan
dunia ini. Tidak apa-apalah kita bermain, yang penting jangan sampai lupa
tujuan besar. Sebagai hiburan kecil, kita lihat siapa yang akan lebih kaya lima
tahun ke depan, ‘hanya untuk’ memberi dampak baik, ikhlas mengabdi
kepada Allah. Sampai berjumpa di puncak.
Kendalikan pikiranmu, kendalikan hidupmu.
Wallahu a’lam.