written by : Memuat
Di bumi yang kita tinggali ini, aktivitas kehidupan yang menghasilkan zat sisa merupakan bagian dari proses alami. Setiap organisme hidup, mulai dari mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan jamur, hingga manusia seperti Anda dan saya, menghasilkan limbah atau zat sisa sebagai bagian dari metabolisme serta aktivitas biologis.
Jadi apa yang perlu dikhawatirkan dari kekotoran di sekitar kita? Pencemaran lingkungan dan dampaknya bagi bumi? Tenang saja, planet ini sudah bertahan lebih dari 4 miliar tahun yang lalu. Jika bicara tentang sebuah akhir, memang itulah takdir dari segala sesuatu yang dimulai. Lagi pula manusia akan punah lebih dulu sebelum bumi musnah bukan? Bukan begitu?
“The planet is fine. The people are f***ed.” - George Carlin
Bagian 1: Batas Wajar Kekotoran
Sebagai organisme manusia tentu memerlukan ekosistem untuk ditinggali. Di planet biru ini, telah berputar beragam kehidupan dari berbagai organisme yang dikatakan 99% dari mereka sudah punah—itu juga bagian dari seleksi alam.
Kekotoran alami di alam (seperti daun rontok, kotoran hewan, atau sisa-sisa organisme yang membusuk) biasanya tidak mengganggu keseimbangan ekosistem, karena ada mekanisme alamiah yang dapat mendaur ulang atau mengelola limbah tersebut.
Namun di sisi lain, nampaknya manusia mampu mengakselerasi (mempercepat) dan mengamplifikasi (memperbesar) produksi limbah mereka, bahkan dengan bahan yang tidak dapat terurai dengan cepat seperti plastik atau logam berat. Ekosistem alami memang memiliki kemampuan untuk mengelola kekotoran dan limbah dalam batas tertentu, tapi perubahan besar akibat aktivitas manusia (semisal, urbanisasi, industrialisasi, atau pertanian yang intensif), kapasitas alam untuk mengatasi polusi kini terlampaui, dan kerusakan lingkungan mulai terjadi.
Bukankah ini berarti kita punya kekuatan untuk memperlambat "kepunahan" itu sendiri?
“Manusia berakal, tapi untuk apa?”
Bagian 2: Manusia, Anomali Paradoks
Entropi, dalam fisika, merujuk pada tingkat ketidakteraturan atau kekacauan dalam suatu sistem. Secara umum, entropi menunjukkan bahwa segala sesuatu di alam semesta cenderung menjadi lebih acak dan tidak teratur seiring berjalannya waktu. Akhirnya, ini bisa berujung pada kekacauan atau kehancuran sistem.
Meski demikian, berkat kecerdasan intelektualnya, manusia berupaya menciptakan keteraturan, pembangunan, dan kemajuan melalui berbagai inovasi. Mulai dari penemuan ilmiah hingga penciptaan budaya dan peradaban.
Sebetulnya kita mampu mengembangkan pilihan kita lebih jauh dengan kecerdasan yang kita miliki, termasuk pilihan untuk bahagia atau menderita. Dan satu dari faktor kebahagiaan itu adalah alam/lingkungan di mana kita hidup.
Kira-kira mana yang lebih bahagia, orang yang sehat atau orang yang sakit? Yang wangi atau yang bau? Yang tinggal di lingkungan bersih atau di tempat yang kumuh? Aksi yang kita lakukan merupakan manifestasi dari apa yang kita pikirkan, dan karena hidup ini pilihan, berarti terserah Anda bagaimana Anda akan menjalani kehidupan.
Walau demikian, karena saya peduli pada diri sendiri, biarkan saya mengatakan ini: Hiduplah dengan sederhana, jaga kebersihan di mana pun dan kapan pun, serta cintailah dirimu sendiri. Akan merepotkan jika menjaga ekosistem ini sendirian, tetapi dengan kekuatan kolektif, tantangan yang sulit akan menjadi lebih mudah dihadapi.
“Bahasa adalah alat yang kuat; dengan itu kita dapat mengubah dunia.” - Winston Churchill
Bagian 3: Mulai Budaya Bersih
Kelangsungan spesies manusia sangat erat kaitannya dengan kebersihan, baik kebersihan lingkungan, kesehatan, maupun kebersihan individu. Lingkungan yang bersih mendukung kesehatan, mencegah penyebaran penyakit, juga menjaga kualitas sumber daya alam yang esensial bagi kehidupan manusia.
Tetapi, kebudayaan tidak akan tercipta jika tidak diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat. Mengurangi ketidakbersihan memang memerlukan pendekatan yang sistematis dan melibatkan berbagai aspek. Adapun yang harus kita lakukan di tahap ini adalah membangun kesadaran kolektif akan pentingnya kebersihan—menumbuhkan kecintaan terhadap kebersihan—baik itu dengan mengingatkan sesama secara langsung, maupun membuat konten menarik di media sosial.
Kita bisa mulai dengan mempelajari masyarakat yang sudah berhasil menerapkan budaya bersih. Sejak saya juga seorang otaku, mari kita lihat budaya bersih di Jepang. Di Jepang, anak-anak diajarkan tentang pentingnya kebersihan sejak usia dini. Jepang juga memiliki sistem pemilahan sampah yang sangat ketat dan terorganisir. Sampah dipisahkan ke dalam berbagai kategori, seperti sampah yang bisa dibakar, non-bakar, daur ulang, dan sampah besar. Bahkan, orang Jepang sering membawa pulang sampah mereka jika tidak menemukan tempat sampah yang sesuai.
Tempat-tempat umum di Jepang, seperti stasiun kereta, taman, jalanan, dan toilet umum, terkenal sangat bersih. Masyarakat secara kolektif menjaga kebersihan tempat-tempat ini, dan petugas kebersihan rutin melakukan pembersihan. Kesadaran publik terhadap kebersihan sangat tinggi, sehingga sampah hampir tidak pernah terlihat di tempat umum.
Lalu, kita bisa meniru kebiasaan pribadi mereka yang mendukung kebersihan, seperti mandi setiap hari (dan jangan lupa menggunakan deodoran/tawas), mencuci tangan dengan sabun, menyikat gigi secara teratur, serta menjaga kebersihan pakaian. Selain itu, kita juga bisa merapikan alas kaki yang berserakan, mematikan lampu dan alat listrik yang tidak digunakan, serta memungut sampah yang terlihat. Tak perlu memungut semuanya, cukup yang ada dalam jangkauan kita, lalu buanglah ke tempat sampah yang semestinya. Ini juga merupakan cara untuk mempromosikan budaya hidup bersih kepada masyarakat sekitar.
Kebersihan adalah pondasi kesehatan dan kelangsungan hidup manusia. Dengan kesadaran kolektif dan budaya bersih, kita bisa menciptakan perubahan positif. Mari mulai dari diri kita untuk menjaga kebersihan, demi lingkungan yang lebih baik bagi kita semua!
“Sesungguhnya Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [13:11]
Terima kasih sudah membaca.
Kendalikan pikiranmu, kendalikan hidupmu.
Wallahu a’lam.
