Jika yang terbaik adalah merelakan
Kenapa rasanya sungguh menyedihkan, bahkan menyakitkan?
“Merelakan” kata yang
menggambarkan pasrahnya hati seseorang akan kehilangan, entah terhadap manusia,
barang, ataupun kesempatan. Merelakan berarti memang menunjukkan ia sudah tak
bisa bersama kita lagi. Kita harus terpisah dari kisah, peristiwa, bahkan
harapan yang pernah diimpikan. Sebagai contoh, ketika aku merelakan kesempatan
untuk mengikuti suatu pelatihan yang kuidamkan karena saat itu ada pekerjaan
mendadak dari atasan. Mau
nggak mau, keputusan yang diambil adalah merelakan yang lainnya.
Jika merelakan satu
kesempatan saja sudah kesulitan, bagaimana dengan merelakan suatu kenyamanan
yang biasa didapatkan? Pada dasarnya, aku memang orang yang jika sudah nyaman
dengan suatu hal akan merelakan diriku hadir sepenuhnya, dan kurelakan ia hadir
sepenuhnya di hidupku juga. Namun, sungguh, sangat sulit kurelakan ketidak
hadirannya.
Tapi, hati manusia
berharap, Tuhan yang menentukan takdirnya. Jika memang belum saatnya, jika
memang bukan takdirnya, pasti ada hal baik setelahnya. Merelakan merupakan
solusi yang terbaik yang akan membuat kita merasa lega. Kesedihan, kemarahan,
kegelisahan, semua berangsur membaik jika kerelaan itu sudah hadir. Jadi,
kemampuan merelakan akan menciptakan hubungan baik antara aku dan diriku
ataupun yang direlakan.
Walaupun begitu, setiap orang memiliki cara
merelakan masing-masing, ada yang memilih untuk menyendiri dan menangis
sepuasnya, ada yang memilih untuk bercerita dan meluapkannya pada sahabatnya,
tetapi juga ada yang memilih menangis pada Rabb-Nya. Yang pasti kita harus
sadar bahwa tidak semua yang hadir kemarin atau saat ini merupakan milik kita,
hidup kita saja milik Rabb kita, bagaimana yang selain diri kita?
Tanpa dipungkiri,
sebelum merelakan ada sebersit kecewa dalam diri, namun bagaimana pun itu, kita
harus mampu melaluinya. Ada
satu nasihat di dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Saat itu Zainuddin
diberikan nasihat oleh sahabatnya, Mulk. Nasihatnya adalah saat menghadapi
kekecewaan karena pasangan seorang yang budiman akan menunjukkan bahwa dirinya
baik-baik saja dan terus berkembang. Bukan hal yang mudah memang, tapi jika
sudah tidak bisa dipertahankan, merelakan merupakan solusi terbaik meski harus
merasakan kecewa terlebih dahulu.
Bagaimana cara merelakan dengan tidak merasa kecewa terlalu lama? Yaitu dengan :
1. Memasrahkan pada Allah SWT
Kita harus percaya bahwa tiada
sehelai rambut yang jetuh tanpa seizing Allah, maka merasakan sakit dan harus
merelakan juga merupakan kisah yang sudah digariskan oleh Allah. Maka, cara
yang tepat adalah kembali pada Rabb dan memasrahkannya padaNya. Bahkan, ada
suatu hadits yang berbunyi:
“Ketika hatimu terlalu berharap
pada seseorang, maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya pengharapan supaya
mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui orang yang berharap pada selain-Nya,
Allah menghalangi dari perkara tersebut semata agar ia kembali kepada Allah
Subhanahu Wa Ta’ala.” (Imam Syafi’i).
Maka, bisa
saja Allah memberikan kepada kita rasa sakit merelakan sebagai suatu jalan
supaya kita mendekat padaNya.
2. Memohon kekuatan pada Allah SWT
Karena merelakan bukan hal yang
mudah, hendaklah kita berdoa agar tidak selalu diliputi rasa kecewa dan
ammarah, dengan sering-sering membaca : “Ya
muqallibal qulub tsabbit qalbi ‘ala dinika”. Semoga Allah menguatkan kita
pada kondisi yang diridhoi Allah.
3. Berpikir Positif
Firman Allah dalam QS Al-Baqarah
ayat 216 berbunyi:
"Boleh jadi kamu membenci
sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai
sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,"
Maka, percayalah segala yang
digariskan untukmu adalah hal terbaik yang Allah siapkan. Jika memang harus
merelakan, berarti Allah sedang melatih hati kita agar tidak mudah meneruskan
perasaan pada yang belum diizinkan.
4. Memperbanyak ibadah
Allah SWT berfirman dalam Surat
Ar-Rad ayat 8 yang artinya: “Bahwa dengan mengingat Allah saja, hati akan
menjadi tenang.”
Perbanyaklah amalan-amalan
sunnah seperti sholat, berdzikir, serta membaca ayat suci Al-Quran agar hati
dan pikiran senantiasa dekat dengan-Nya. Dengan begitu, ingatan akan seseorang
pun perlahan-lahan menghilang.
5. Menyibukkan Diri
Tentu saja,
menyibukkan diri merupakan solusi agar pikiran kita tidak terlalu fokus pada
rasa sakit dan kenangan yang ada. Jadi, saat sakit hati, manfaatkan waktumu untuk fokus
mengembangkan diri ya gengs!
