Pertanyaan singkat, namun cukup membuat saya termenung cukup lama. Memasuki fase dewasa dengan banyaknya kejadian-kejadian yang datang awalnya membuat saya banyak mengeluh hingga akhirnya membuat stress sendiri. Bagi saya yang tengah menjalani fase quarter life crisis, terkadang membayangkan akan bagaimana saya di masa depan cukup membuat pening kepala. Masa-masa dengan banyak pikiran yang memusingkan tersebut, membuat saya bertanya-tanya pada diri sendiri
"Menjalankan dunia yang hanya sebentar ini, kenapa harus seribet ini?, sebenarnya hidup ini untuk apa ?"
Setelah mencoba
memahami semua yang terjadi, banyaknya keluhan yang terlontar itu terjadi
karena saya terlalu berfokus pada hal-hal tidak menyenangkan yang datang dan
menjadikan banyaknya harta sebagai jalan keluar terbaik pada saat itu. Saya
terlalu lalai hingga akhirnya lupa diri. Padahal dalam Al-Qur’an Allah
berfirman dalam surat Al-Insan ayat 2,
"Sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami
hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia
mendengar dan melihat."
Semua yang terjadi
dalam hidup ini, baik itu cobaan atau kenikmatan merupakan ujian sebagai
pembelajaran agar kita menjadi manusia yang lebih baik di hadapan Allah, karena
sejatinya tujuan manusia hidup adalah untuk beribadah kepada Allah
“Dan Aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu.” (QS.
Adz-Dzariyat[51]: 56)
Semua urusan kita
di dunia ini hanyalah perantara agar kita mudah mentaati Allah dalam kehidupan
ini. Tujuan utama kita mencari dan meminta rezeki haruslah diniatkan untuk
menunjang ibadah kita, seperti agar kita bisa membeli mukenah terbaik untuk
melaksanakan sholat, mengeluarkan zakat, bersedekah, melaksanakan haji atau
umroh dan lain sebagainya.
Begitupun memandang
ujian yang datang, jika kita benar-benar memahami bahwa hidup ini adalah untuk
kembali pada Allah nantinya, maka tak ada yang perlu dirisaukan dalam menjalani
kehidupan ini. Ujian-ujian yang datang akan kita pandang sebagai bentuk kasih
sayang Allah kepada hambanya agar kita tidak terlalu lalai dalam kehidupan
dunia.
Jangan menyibukkan
diri dengan meratapi ujian yang datang dan banyak mengeluh. Hadapi ujian
tersebut dengan meningkatkan ibadah, perbanyak rasa syukur, memperbaiki akhlak,
berikhtiar sebaik mungkin dengan cara yang Allah sukai.
Percayalah…
Jika ikhtiar
terbaik sudah kita lakukan dan hati selalu penuh dengan rasa syukur, ketika
ujian itu belum kunjung reda, maka setidaknya kita akan mendapatkan ketenangan
dalam hati. Ketenangan itulah kunci dari kebahagiaan, sungguh kebahagiaan tak
akan berarti jika tak ada ketenangan didalamnya.
Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah yaa :) karena Allah tak pernah menguji seseorang melebihi kemampuan hambaNya.
By Writter : Novrin warbain
