Ada suatu kalimat yang cukup membuat keningku berkerut, yakni
“Mengetahui yang tersurat menjadi pengetahuan, mengetahui yang tersirat akan menjadi penghayatan, tetapi jika mampu mengaplikasikannya akan menjadi kearifan hidup”.
Kalimat tersebut kubaca berkali-kali hingga ada maksud yang kumengerti. Nampaknya, kita sebagai manusia hendaknya merefleksikan segala pengetahuan yang tersurat. Mempelajari ilmu Al-Qur'an beserta maknanya akan menambah wawasan kita, menghayati makna terdalam dalam kalimat Allah akan menambah perenungan dalam batin kita, kemudian bagi yang dapat mengamalkannya dalam kehidupan akan menambah keberkahan dan makna hidup.
Tak hanya sampai disitu, pengetahuan yang tersurat bukan hanya bersumber dari Al-Qur'an dan hadits, namun bersumber dari kehidupan ini. Apa yang terjadi merupakan surat nyata dari Tuhan yang Maha Kuasa. Maka, mengetahui dengan sadar apa yang terjadi akan menambah pandangan kita terhadap dunia yang luas ini. Memahami alasan dan hikmah di balik suatu kejadian membuat kita menghayati keberadaan Rabb yang telah menakdirkan garisnya. Dan bagi yang mampu menerapkan pelajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari akan memperoleh arifnya hidup.
Lalu teman-teman, bagaimana caranya kita bisa belajar ataupun memahami makna hidup kita?
Mari kita mulai dari diri sendiri yaitu dengan muhasabah. Sebenarnya apa itu arti muhasabah?
Dalam kata lain, bermuhasabah merupakan salah satu jalan memperoleh arifnya kehidupan yang sesungguhnya. Apalagi di akhir tahun seperti ini, adalah waktu yang tepat untuk bermuhasabah. Men-cheklist dan mencoret daftar target yang ada di tahun ini nampaknya membuat kita bercemas-cemas khawatir.
Nah, sekarang mari kita pelajari cara melakukan muhasabah mandiri. Fahruddin Faiz, M.Ag., seorang dosen filsafat di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memberi arahan cara melakukan muhasabah yang dapat dilakukan di akhir tahun, yaitu:
1. 1. Mengenali kembali diri sendiri
Diri sendiri, yang dirasa cukup dengan kita, ternyata juga harus kita kenal kembali. Siapakah kita, dimanakah kita, apakah tujuan kita, dan kemana arah kita, semuanya harus kita kenali kembali. Sesungguhnya, manusia diciptakan dengan mengemban dua amanah, yakni amanah kehambaan dan kemanusiaan. Keduanya merupakan satu kesatuan, seorang hamba yang baik akan memiliki hati kemanusiaan yang baik pula. Oleh karena itu, saat bermuhasabah kita perlu mengenali kembali,
apakah dua amanah tersebut sedang kita jalani dengan baik dan penuh prasangka baik terhadap Tuhan kita?
Tak sampai disitu, kita juga pelu ingat, bahwa tujuan kita adalah ilaihi raaji'uun , yakni kembali ke jalan-Nya. Jalan yang diridhai Allah, yang sudah Allah temukan, yang akan membawa ke dalam kebaikan.
2.
Bermuhasabah kepada diri sendiri dengan lebih ketat dibandingkan kepada orang lain
Di dunia yang serba maya seperti saat ini, kita bisa dengan mudah menilai orang lain hanya dengan komentar ataupun reaksi yang dikirimkan. Tetapi apakah komentar dan reaksi itu pernah kami kirimkan ke diri saya sendiri sebelumnya? Tentu menjadi hal yang sulit bukan? Mata kita mudah melihat orang lain, tapi sulit melihat ke dalam diri masing-masing. Oleh karena itu, mari kita lebih sering menggunakan mata hati kita untuk introspeksi ke dalam diri masing-masing. Tentunya dengan aturan yang lebih ketat, dengan standar yang lebih tinggi.
Bagaimana cara melakukannya? Yakni dengan memiliki pengetahuan, kesadaran, kebaikan, dan perbaikan.
Memiliki pengetahuan tentang kebaikan, sadar untuk melakukannya, selalu mengutamakan kebaikan, dan melakukan perbaikan pada lubang yang dirasa perlu.
Dari semua yang telah dibahas diatas, perlu bagi kita untuk melakukan muhasabah untuk mengenal dan menilai diri kita sendiri secara lebih mendalam. Muhasabah juga diperlukan untuk memperoleh kearifan hidup dengan mengambil pelajaran positif atau hikmah dari segala kejadian yang ada. Mari bermuhasabah apalagi di nihayat sanah seperti saat ini.
By Writter : Umi Fathona
