Hidup yang bergelimang kemewahan dan harta kekayaan adalah dambaan banyak orang. Tak jarang, orang-orang membuat tolak ukur kesuksesan hidup dari seberapa banyaknya harta yang diperoleh. Bahkan orang orang yang menempuh pendidikanpun baru akan dikatakan berhasil jika pendidikannya memberikan dampak keuntungan finansial yang besar bagi karirnya.
Sehingga kemapanan secara finansial menempati urutan teratas dalam tujuan hidup.
Coba deh kita renungkan beberapa pertanyaan ini :
Apa yang akan terjadi jika kita sangat fokus mengejar kemapanan finansial?
Mungkin kita dapat mengumpulkan harta sebanyak mungkin. Satu persatu barang impian akan terbeli. Namun hal tersebut tidak menjamin kebahagiaan di kehidupan kita. Kalau kesenangan sudah pasti. Namun, kesenangan itu sementara, kan? Dan kesenangan rawan melalaikan kita dalam mengingat Tuhan. Harta adalah titipan, begitu juga dengan keluarga seperti anak, suami. Namun, hal hal yang bersifat sementara dan titipan ini sangat rawan melalaikan kita dari mengingat Tuhan. Naudzubillah
Apa yang akan terjadi dalam hidup kita bila kita melalaikan Tuhan?
Banyak orang kaya, hidup bergelimang harta, memiliki pasangan yang rupawan, anak anak yang pintar namun hidupnya merasa tidak tenang. Artis Korea super terkenal memilih mengakhiri hidupnya padahal kekayaan dia sudah tak diragukan lagi. Uang memang dapat membeli kesenangan, tapi tidak kebahagiaan bila tidak didasari oleh kebaikan dan tujuan yang tepat.
Lantas bagaimana kah cara agar kita tidak lalai dengan hal hal yang bersifat duniawi?
Tentu saja kita harus menentukan apa tujuan kita hidup di dunia ini. Tujuan manusia hidup tak lain hanya untuk beribadah kepada Allah.
Maka dengan titipan harta, pasangan, anak-anak yang diberikan Allah, rawatlah mereka dengan keimanan yang baik. Tumbuhkan rasa syukur dalam hati agar selalu merasa cukup dan tidak serakah. Pergunakan harta yang diberikan Allah untuk banyak berbuat baik dan membantu sesama. Apa yang kita miliki di dunia ini harus bisa menjadi penyelamat kita kelak di akhirat. Karena apa yang di miliki di dunia sesungguhnya hanyalah hal yang bersifat sementara, dan akhirat adalah kehidupan yang kekal.
Dalam surat al-Munafiqun ayat 9 Allah berfirman :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚوَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
Yā ayyuhal-lażīna āmanū lā tulhikum amwālukum wa lā aulādukum ‘an żikrillāh(i), wa may yaf‘al żālika fa ulā'ika humul-khāsirūn(a).
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu membuatmu lalai dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi.
(QS 63 : 9)
By Writter : Frida Fortuna & Novrin warbain
