Puing-puing Senandika
Kalbu yang kini tlah
hancur
Tak mungkin bisa utuh
kembali
Terbelenggu didalam
buih yang dingin
Tersiksa tanpa akhir
yang tak akan pernah diketahui
Berjalan di lorong
kehampaan sunyi dan sepi
Sambil menahan rasa
sakit tanpa henti
Senandika tercekat bersarang di balik lisan yang penuh dusta
Hanya bisa
menyaksikan akan tamparan realita.