"Sungkan"
adalah kata dalam bahasa Indonesia yang mengacu pada perasaan malu, segan, atau
tidak enak hati ketika ingin melakukan sesuatu, terutama ketika berkaitan
dengan tindakan atau permintaan kepada orang lain. Orang yang merasa
"sungkan" cenderung merasa tidak ingin merepotkan atau mengganggu
orang lain, sehingga mereka mungkin akan menahan diri untuk melakukan sesuatu
meskipun sebenarnya mereka ingin melakukannya. Pendapat lain mengatakan bahwa
sungkan adalah serapan kata dari bahasa Jawa yang tidak memiliki padanan kata
yang pas dalam bahasa Indonesia. Beberapa kata yang dirasa mirip dan sedikit memiliki kesamaan dengan kata sungkan
yaitu malu, segan, enggan dan hormat. Tetapi diantara kata tersebut tidak ada
kata yang tepat dalam menemukan makna dasar dari sungkan.
Dalam budaya Indonesia, rasa
"sungkan" sering kali dianggap sebagai tanda kesopanan dan
penghormatan terhadap orang lain. Dalam beberapa kasus, rasa sungkan memang
bisa memiliki efek positif sebagai bentuk sopan santun dan penghargaan terhadap
orang lain. Sungkan dapat memberikan dampak positif dalam kehidupan budaya dan
interaksi sosial. Seperti menghargai orang lain, menjunjung nilai kesopanan dan
etika, memiliki empati terhadap orang lain, menghormati nilai budaya dan memperkuat
kebersamaan. Hal ini mungkin menjadi salah satu penunjang tingginya nilai dan
budi pekerti luhur di Indonesia.
Seiring berjalannya waktu
rasa sungkan mulai mengalami pergeseran nilai. Dimana perasaan sungkan muncul
secara berlebihan, dilakukan tidak pada situasi yang tepat sehingga memberikan
dampak negatif dalam interaksi sosial. Misalnya saja rasa sungkan yang
berlebihan bisa menghambat kemampuan seseorang dalam membentuk hubungan sosial
yang lebih dalam. Mereka mungkin merasa sulit untuk terhubung dengan orang lain
atau tidak mampu membina hubungan yang berarti. Terlalu banyak sungkan juga
dapat menghambat seseorang dalam berkomunikasi. Mereka mungkin kesulitan
menyuarakan pendapat mereka atau mengemukakan kebutuhan mereka. Umumnya mereka
akan mudah stress, bahkan tak jarang dapat menimbulkan masalah-masalah lain
seperti prasangka, hubungan pertemanan yang retak, rendahnya percaya diri
hingga stress dan kecemasan. Wah, ternyata nilai singkanisme yang kita junjung tinggi
ini memiliki dampak yang kurnag baik terhadap hubungan sesama manusia.
Mari kita renungkan,
sebenarnya kita sungkan karena apa ? Apakah betul karena merasa tidak enak
hati, atau justru malas berpikir untuk mencari kata yang tepat agar tercipta
komunikasi yang baik ? Ketika kita tau tujuan komunikasi yang kita lakukan
untuk apa dan ingin disampaikan ke siapa saja, tentu kita akan mencari cara
agar pesan yang akan disampaikan bisa terkomunikasikan dengan baik tanpa
berlindung dari kata "sungkan". Jika sungkan diartikan sebagai rasa
tidak enak hati, maka harus dicari asal muasal dan sumber ketidak-enakan hati
ini. Apakah bersumber dari rasa takut salah, ataupun takut malu. Bukankah rasa takut
tersebut sebagai bentuk prasangka buruk, bahkan bisa jatuh dalam kesombongan
karena diri yang enggan dinilai salah.
Dalam Al-Qur'an sendiri
Allah telah memperingatkan agar selayaknya seorang hamba tidak banyak prasangka,
sebagaima yang terkandung dalam surat Al-Hujarar ayat 12 yang artinya :
“Wahai, orang-orang yang
beriman! Jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya, sebagian prasangka itu
dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di
antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada sebagian kamu yang
suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan,
bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat Lagi Maha
Penyayang.”
Dalam sebuah hadis qudsi
dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda yang artinya:
“Allah berfirman sebagai
berikut:”Aku selalu menuruti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Apabila ia
berprasangka baik maka ia akan mendapatkan kebaikan. Adapun bila ia
berprasangka buruk kepada-Ku maka dia akan mendapatkan keburukan.” (H.R.Tabrani
dan Ibnu Hibban).”
Maka dari itu, komunikasi
yang baik adalah komunikasi yang dilakukan secara efektif. Komunikasi yang
efektif bisa terjadi apabila pesan yang disampaikan komunikator dapat diterima
dengan baik oleh komunikasikan sehingga tidak akan terjadi salah persepsi. Kita
perlu merefleksi dan memperbaiki cara berkomunikasi dan mencegah dampak buruk
dari rasa sungkan. Jika rasa sungkan memperburuk silaturahim atau keadaan
lingkungan karena memilih tidak mengkomunikasikannya, bisakah itu tetap dianggap
baik? Jika demikian sudahkah rasa "sungkan" ini membuat Allah ridho
pada kita?
Wuallahualam