Cinta secara umum dipandang sebagai bentuk kasih sayang seseorang yang ditujukan kepada orang lain secara tulus tanpa mengharap balasan. Namun setiap orang bisa memandang cinta dengan makna yang berbeda, lalu seperti apakah kamu memandang cinta ?
Apakah cinta yang kamu rasakan membawa kebaikan padamu?
Hmm.
Cinta sendiri dalam islam diartikan sebagai dasar persaudaraan antar manusia,
dan melandasi manusia untuk berbuat baik tak hanya kepada manusia tetapi dengan
makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan. Hal ini selaras dengan ayat berikut
Artinya: "Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia
menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat
kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan
keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada
kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti
jalan yang lurus," (QS. AL Hujurat ayat 7).
Kedudukan cinta paling utama yang harus dikulik, adalah bagaimana bentuk
cinta kepada Sang Pencipta kita, Allah SWT. Perasaan cinta tak bisa muncul
begitu saja, tentu ada proses sebelumnya yang terjadi. Bagaimana cinta kita
kepada Allah harus diukur terlebih dahulu dengan bentuk kepatuhan kita dalam menjalankan apa
yang diperintahkanNya. Ketika banyak pelanggaran yang kita lakukan, apakah
masih bisa itu disebut sebagai bentuk cinta kita kepada Allah? Bukankah jika kita
cinta, kita selalu ingin memberikan yang terbaik bagi orang yang kita cintai?
Sudahkah kita lakukan yang terbaik untuk meraih cinta Allah kepada kita?
wuallahualam. Sejatinya cinta terbaik adalah adalah rasa cinta yang membawa
kita menjadi pribadi yang lebih baik, yang bisa menebar banyak kebahagiaan bagi
orang-orang disekitar kita.
Bagaimana cinta yang seharusnya ? Kenapa harus cinta yang demikian ?
Bagi sebagian orang, mungkin rasa cinta adalah sebuah ketakutan, sebuah rasa
trauma. Ntah karena pengalaman cinta sebelumnya yang berakhir buruk, ataupun
merasakan dampak buruk dari hasil cinta orang lain yang tak berjalan mulus
seperti keluarga, sahabat, ataupun orang disekitar. Semua ketakutan itu mungkin
muncul karena pondasi cinta kita kepada sang pemilik hidup masih tak terlalu
kuat. Jika kita sudah bisa menemukan makna cinta yang paling kita yakini untuk
Allah SWT, maka kita akan selalu yakin dengan semua hal yang datang itu adalah
keputusan Allah yang paling baik. Walaupun terkadang terasa menyakitkan yaa,
hehe. Tapi bukankah Allah sudah sebutkan dalam Al-Qur’an yang berbunyi :
“Boleh jadi kamu membenci
sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai
sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak
mengetahui,” (QS
Al-Baqarah: 216)
Semua rasa sakit, rasa sedih yang kita rasakan, sungguh itu adalah bentuk
cinta Allah kepada kita, agar bisa menjadi manusia yang lebih berkualitas,
menjadi lebih baik. Ketika rasa cinta kita kepada Allah sudah menjadi prioritas
utama, maka tak akan sulit bagi kita untuk memfilter rasa cinta manusia yang
datang menghampiri. Untuk bisa meraih dan mendatangkan rasa cinta kepada Allah
di dalam hati kita, maka berusahalah semaksimal mungkin untuk mematuhi apa yang
sudah menjadi ketentuanNya. Keyakinan tanpa kepatuhan tak akan memunculkan rasa
cinta itu. Pelanggaran-pelanggaran kecil yang terus menerus dikumpulkan akan
mengikis keyakinan hingga akhirnya hilanglah rasa cinta itu kepada Dzat yang
seharusnya paling kita cintai. Jika sudah hilang rasa cinta kepada Allah SWT,
maka bersiaplah untuk terus menerus patah hati menghadapi kejamnya rasa cinta
manusia.
Written by : Novrin Warbain