Manusia sering sekali berkata “semoga Allah Ridho” dan bisakah setiap saat mendapatkan Ridho Allah?
Ridho artinya rela, menerima dengan senang hati, cinta,
merasa cukup (qana’ah), berhati lapang dada.[1] Ridho
Allah datang dari suatu sikap atau tindakan seorang sebagai undangan kepada
Allah untuk menerima atau senang padanya. Seseorang yang berhasil mendapat
ridho Allah ialah dengan melakukan segala kebaikan tanpa mengeluh walau sebiji
sawi. Karena bersyukur akan ditambah tidak bersyukur siksa Allah amat pedih,
begitulah Allah sampaikan dalam Al-Qur’an.
Allah memberikan pilihan antara baik dan buruk,
manusia disuruh berpikir, membedakan dan mengambil keputusan setelah beriqro
melalui alat indra. Pesan sangat indah dalam Al-Qur’an yaitu “Beruntung bagi
orang yang berpikir” seseorang berpikir untuk membuat Allah senang telah menjalankan
fitrahnya sebagai manusia yang berpikir.
Orang tua akan Bahagia apabila anaknya menjalankan
kebaikan dan berbakti kepadanya, mengurusnya di waktu lanjut usia tanpa
mengeluh sedikitpun. Tak mampu memberikan lebih pada anaknya seperti yang
dulunya mampu mencari nafkah, tetapi doa selalu disampaikan kepada Allah agar
kebahagiaan menghampiri anaknya.
Kisah kebaktian anak kepada orang tua (Ibu) sekaligus
membuat Allah senang pada sikapnya yaitu Uwais Al-Qarni pemuda yang tidak
terkenal pada zaman Nabi, miskin dan mendapat penyakit kulit. Ternyata Nabi
Muhammad SAW mengenalnya dan Allah mencintainya. Sebab suka cita merawat sang Ibunda
tercinta yang lumpuh sekaligus menggendongnya ke baitullah sebagai memenuhi
keinginan Ibunya. Nabi SAW bersabda “Suatu ketika, apabila kalian bertemu
dengan dia (Uwais Al-Qarni), mintalah doa dan istigfarnya. Dia adalah penghuni
langit, bukan orang bumi.” (HR. Muslim)
Lihatlah bagaimana seorang yang tidak terkenal mencuri
perhatian Nabi dan mengundang Ridho Allah. Apabila kita lirik lebih dari kisah
Uwais Al-Qarni atau kisah kita sendiri bahwa Ridho Allah berdasarkan suatu
perbuatan yang sifatnya baik. Allah mengizinkan suatu perbuatan baik dan buruk
ada di dunia, tetapi belum tentu Allah ridho dengan perbuatan buruk karena
manusia diciptakan untuk berpikir mendapatkan pengetahuan membedakan keduanya sehingga
dapat menjauh dari keburukan mendekat pada kebaikan melekat didalamnya
kebenaran.
Rela menerima ketentuan tanpa ada keluhan tanpa
mengatakan “kenapa Allah mentakdirkan ini kepada saya” atau bahasa keluhan
lainnya. Ini adalah sikap seorang hamba yang menjauh bahkan tidak mengundang
Ridho Allah, padahal Ridho Allah selalu ada untuk hambaNya dengan cara
menjalankan perintahNya menjuauh dari laranganNya.
Manusia sering melakukan penolakan terhadap kata lupa yakni lupa dengan Nikmat yang Allah karuniakan. Merasa mampu melakukan segalanya sendiri tanpa ada kehendak atau campur tangan dari yang lain. Sehingga mudah sekali lupa setelah diberi kesenangan dunia, mengingat disaat kesengsaraan menghampiri. Keduanya adalah cara Allah menguji kerelaan (ridho) manusia terhadap ketentuanNya, Allah SWT berfirman “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata “Kami telah beriman” sedangkan mereka tidak diuji?” (QS Al-Ankabut : 2).
Maka sebelum mengatakan “semoga Allah
Ridho” bertanya pada diri kita “sudahkan saya ridho dengan segala
ketentuanNya?” nyatanya Allah akan mempertanyakan bagaimana kita menggunakan
akal sebagai fungsi bepikir.
[1] Azhar, Muhammad “Penerapan Tauhid Dalam Diri Untuk Mencapai Ridho
Allah” Jurnal, STAI Nurul Ilmi Kota Tanjung Balai 2022