Ketika takbir mulai berkumandang di malam Idul Adha ini, air mata tak sengaja menetes. Hati yang sudah lama rindu akan ketenangan itu seolah mendapat jawabannya.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar; Laa ilaaha Illallahu walahu akbar, Allahu Akbar wa lillahi hamdu.”
Sontak, kenangan akan keluarga di rumah tergambar jelas, suasana mushola yang penuh anak-anak mengumandangkan takbir tak bisa terlupakan. Selain itu, kebahagiaan menyambut liburan walau sehari juga sangat dinantikan. Tercium pula aroma masakan bunda yang selalu menggugah selera.
Sebenarnya, Idul Adha, baik di kampung atau di kampung rantauan, sama saja maknanya. Yakni, mendekatkan diri pada Ilahi Rabbi. Namun, walau sama maknanya, rasanya berbeda. Apalagi bagi anak rantauan yang telah lama merindukan orang tuanya di rumah. Momen malam Idul Adha seperti ini tak kalah membuat mereka ingin menangis di pojokan.
Namun, kondisi meratapi bukanlah solusi. Kita semua tahu, jika kita menangis, kita tidak bisa langsung pindah tempat ke rumah. Jadi, apa yang harus dilakukan anak rantau yang merasa galau di malam Idul Adha? Mari kita simak!
Terima kondisi dengan ikhlas
Seperti kutipan yang terkenal, “Kebahagiaan ada di hati, bukan pada keadaan”, kebahagiaan berasal dari hati, bukan dari lingkungan sekitar. Jadi, kunci pertama kita bisa melewati idul adha dengan bahagia walau di rantauan adalah dengan menerima syarat yang telah ditetapkan oleh Allah. Kita harus menurunkan syarat kebahagiaan kita dan memaafkan ikhlas. Selanjutnya, jadikan momen berharga ini seperti hakikatnya, mendekatkan diri pada Allah. Yaitu dengan melakukan kebaikan dan menebar kebahagiaan.
Sibukkan diri
Salah satu penyebab orang merindukan tempat lahirnya adalah karena tidak melakukan apapun. Rebahan dan scrolling media sosial hanya membuat anak rantau kian bersedih. Oleh karena itu, kita harus mengalihkan konsentrasi kita pada kegiatan yang lebih positif. Bereskan rumah, masak makanan khas lebaran, siapkan alat sholat dan pakaian terbaik, pergi ke masjid untuk ikut meramaikan takbir, dan nikmati malam bersama orang-orang sekitar. Kegiatan tersebut akan mengisi malam takbir dengan lebih menyenangkan. Selain itu, kita juga bisa membuat agenda bersama teman dan orang sekitar. Mumpung tanggalnya merah, sekalian bisa berlibur bersama rekan kerja kan?
Kunjungi keluarga atau orang terdekat
Bagi anak rantau yang memiliki saudara ataupun teman dekat, jangan sungkan untuk mengunjungi rumahnya. Dengan hadirnya, rasa kesepian akan memudar dan berganti bahagia karena memiliki keluarga. Yap, keluarga, keluarga kedua, ketiga, keempat dan seterusnya.
Hubungi orang tua di rumah dan tetap bahagia
Ada sebuah nasehat dari seorang kakak pada adiknya yang sedang merantau, “Janganlah kamu menceritakan kesedihanmu di rantauan pada orang tuamu, karena itu hanya akan membuat mereka bersedih dan khawatir, sementara mereka tidak bisa melakukan apapun untukmu”. Jadi, walau seburuk apapun kondisimu, tetap katakan kamu bahagia di rantauan. Karena itu semua bisa menjadi doa, dengan pesan positif, insya Allah yang datang juga hal yang baik. Jadi, saat menghubungi orang tua di rumah, pastikan kami tersenyum lebar dan tulus. Ucapkan selamat lebaran dan tunjukkan bahwa kamu bahagia meski lebaran di rantauan. Dengan memberikan afirmasi kebahagiaan, kita juga akan bahagia.
Itulah solusi ketika kita merasa baper dan galau karena harus menikmati lebaran di rantauan. Berpikir positif pada takdir Allah, lakukan sesuatu yang positif, dan buktikan bahwa bahagia itu syaratnya mudah.
Author : Umi Fatona