Apa yang paling diharapkan manusia di kehidupan ini?
Jawabannya adalah bahagia. Kata bahagia sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang memiliki definisi bahagia yang berbeda. Oleh karena itu, manusiapun melakukan banyak hal untuk dapat mencapai kebahagiaan sesuai dengan apa yang mereka yakini tentang makna kebahagiaan.
Lalu, kondisi seperti apakah manusia dikatakan bahagia?
Apakah punya harta melimpah, pasangan cantik/tampan, rumah mewah, mobil limited edition sudah cukup mengawali ungkapan bahagia ? Tentu tidak. Hal tersebut hanya akan mendatangkan kesenangan. mengapa? Karena, tidak ada rasa ketenangan disana.
Lantas sebenarnya apa itu bahagia?
Al kisah, pasangan suami istri yang hidup bersama dengan anak semata wayangnya. Si suami bekerja di sebuah perusahaan dengan pangkat dan gaji yang tinggi. Sedangkan Istri merupakan ibu rumah tangga. Hidup yang serba berkecukupan bahkan mewah. Hingga suatu hari terdapat peristiwa yang membuat si suami menjadi pengangguran. Sebulan kemudian, anak semata wayang mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan maut dan si suami menjadi cacat.
Si suami sangat terpukul, setiap hari menyesali dan menyalahkan diri sendiri atas kejadian ini. Sibuk mengeluhkan dan menyalahkan keadaan. Setiap hari murung, hidup dalam ratapan kesedihan.
Sedangkan si istri masih senyum-senyum menjalani hari-harinya. Tetangga pun bertanya, mengapa si istri masih terlihat tenang bahkan bahagia dalam situasi seperti ini? Si istri pun menjawab, aku masih bisa mendoakan anakku, aku juga mensyukuri setiap hembusan nafas, makanan yang masih dinikmati, suami yang masih hidup, serta kesempatan hidup yang bisa aku gunakan untuk melakukan hal baik.
Demikian respon yang diberikan si istri terhadap masalah yang dihadapi menunjukkan bahwa manusia akan memperoleh kebahagiaan saat pola pikirnya sudah benar-benar terkendali.
Belajar dari kisah di atas, seorang guru menyampaikan bahwa sepertinya bukan kelimpahan, kemewahan, ataupun konsumerisme yang menjadikan kita bahagia. Letak kebahagiaan adalah dalam hati, dan kebahagiaan dinyalakan dalam hati dengan cara bersyukur dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan dengan cara yang lain. Intinya, kita perlu mempelajari rasa syukur itu, yakni dengan merasakan kebahagiaan di dalam keterbatasan. Sebuah kutipan Seorang Arif,
"Hari ini teknologi begitu canggihnya sehingga manusia mampu menjelajah ke segala tempat; luar angkasa, lautan dalam, ujung penjuru bumi, dan sebagainya. Padahal, untuk bahagia manusia perlu menjelajah ke dalam relung hatinya."
Dalam sebuah tayangan channel youtube Big Think yang berjudul become chase happiness |become antifragile. Tal Ben-Shahar menyampaikan beberapa hal berikut.
Psikologi Riset membuktikan bahwa orang yang hidupnya bahagia bukanlah mereka yang selalu mengejar-ngejar kebahagiaan dan bukan pula mereka yang hidupnya bebas tekanan. Mereka yang hidupnya bahagia adalah mereka yang tegar dan hatinya tidak rapuh. Sebaliknya, orang yang mengejar bahagia dan mendamba hidup bebas tekanan seringkali adalah orang² yang tidak bahagia. Oleh karena itu, kebahagiaan adalah tentang hati yang tak rapuh dan tegar.
