Renungan ini berawal dari beberapa minggu terakhir banyak pemikiran negatif yang mengganggu. Semacam pikiran was-was akan masa depan dan rasa insecure yang berlebihan. Kondisi tersebut membuat saya merenung memikirkan cara keluar dari zona yang membagongkan. Cari solusi ini, itu (maksudnya tidur sini tidur situ) tetep aja gak nemu solusinya. Kemudian beberapa waktu yang lalu baru selesai membaca buku Psikologi Uang dan pengen cari buku berikutnya untuk dibaca. Tadinya, mau baca Sejarah Rasulullah karangan Amru Kholiq tapi gak ada bukunya. Akhirnya cari-cari buku lain dan gak sengaja ngeliat buku Life Without Limit.
Sekilas tentang buku ini, menceritakan seorang laki-laki bernama Tony yang dilahirkan tanpa tangan dan kaki. Bisakah kita membayangkan bagaimana bila kita berada diposisi Tony? Rasa kecewa, hancur, sampai orang tuanya pun ikut menanggungnya, "kalau memang Tuhan itu baik kenapa ini terjadi pada kami?". Hingga suatu ketika ia mulai menerima dirinya sebagai ciptaan Tuhan yang sempurna, berdamai dengan segala kekurangannya. Meskipun untuk mencapai kesadaran itu memerlukan waktu yang tidak sebentar. Tidak hanya dia, tetapi orang tuanya pun mulai meyakini bahwa apa yang dimilikinya saat ini pasti memiliki maksud yang baik. Keyakinan tersebut membuat dia menemukan kelebihan-kelebihannya yang mengantarkan dia menjadi seorang motivator hebat dunia. Berdasarkan kisah tersebut, Hikmah apa yang dapat kita petik?
Sering sekali kita meyakini diri kita tidak cukup cerdas, tidak menarik atau tidak berbakat untuk mengejar cita-cita kita. Kita lebih mempercayai apa yang dikatakan orang lain tentang diri kita. Lebih buruknya lagi, kita merasa diri kita ini tidak berguna. Dengan kata lain, dalam kondisi ini sebenarnya kita sedang membangun penghalang untuk diri kita sendiri atau kita sedang memberikan batasan bagi karya Tuhan yang sebenarnya bisa terwujud melalui diri kita. Pada intinya kita ini kurang bersyukur, terlalu banyak keinginan tapi tidak mau berusaha mewujudkannya. Lalu, apa yang harus dilakukan? Jawaban saya temukan saat berdiskusi dengan seorang ustadz di masjid tentang bersyukur tanpa syarat dan suka bertaubat.
Dalam diskusi tersebut diceritakan sebuah kisah Hasan Al Basri. Suatu ketika datang seseorang kepada Imam Hasan Al-Basri mengadukan masalah.
Orang pertama datang mengadukan musim paceklik, kemudian Hasan Al-Basri berkata kepadanya: “Istighfar lah engkau kepada Allah”.
Kemudian orang kedua datang mengadukan tentang kemiskinannya, Hasan Al-Basri pun berkata: “Istighfar lah engkau kepada Allah”.
Datang lagi orang ketiga mengadukan kondisinya yang tidak kunjung dikaruniai anak, Hasan Al-Bashri berkata kepadanya: “Istighfar lah engkau kepada Allah“.
Berikutnya orang keempat mengadukan tentang kebunnya yang kering, kemudian Hasan Al-Basri berkata kepadanya: “Istighfar lah engkau kepada Allah”.
Hasan Al-Basri menjawab semua keluhan dengan : “Istighfar lah engkau kepada Allah”.
Memperhatikan hal tersebut, al-Rabi bin al-Sabih, murid Hasan Al Basri bertanya kepada beliau dengan sangat penasaran.
“Wahai Syaikh Hasan al-Basri, tadi orang-orang yang berdatangan kepadamu mengadukan berbagai permasalahan, dan engkau memerintahkan mereka semua agar beristighfar , mengapa demikian?”
Hasan Al-Bashri menjawab: “Aku tidak menjawab berdasarkan pikiranku sendiri, tetapi karena Allah Subhanahu wata'ala telah mengatakan dalam firman-Nya di Surat Nuh ayat 10-12."
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْ كُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَ ْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)
“Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS.Nuh: 10-12)
Pada akhirnya semakin kesini semakin menyadari dua hal. Pertama, Tuhan yang maha baik tidak akan memberikan sedikitpun keburukan pada hambanya. Kedua, sebenarnya penderitaan kita disebabkan oleh kita sendiri. Kita kurang bersyukur, lebih suka menghitung nasib buruk daripada nikmat lebih-lebih kita merasa diri kita ini orang paling tidak beruntung di dunia ini. Dengan renungan ini semoga kedepannya bisa memperbaiki diri ke arah yang lebih baik dan menjadi manusia yang dicintai Allah.
Terimakasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca..
Pengarang : Han D Rawr
