Sudah tak asing lagi ketika kita berhari raya di Indonesia, tentunya kental sekali akan budayanya ya gaiss. Ayo ngaku siapa yang masih dapet THR? xixixi
Nahh, seperti apa ya kira-kira Rasulullah ketika berlebaran?
Mari kita renungkan satu nasihat tentang hari raya berikut :
" Dahulu masa Nabi Muhammad Saw lebaran ialah hari spiritual. Sekarang hari raya telah terdegradasi menjadi hari kultural, sangat mungkin terdegradasi menjadi hari materialistis."
Hayoo, kebiasaan apa sih yang sering kita lihat waktu hari raya? Mudik, bagi-bagi THR, unjuk pencapaian, memakai baju baru, bahkan sampai menanyakan hal-hal privasi. Sudah tidak diragukan menjadi budaya masyarakat kita yaa? 😁
So, agaknya sejenak kita harus merenung tentang budaya itu. Apakah budaya yang sering nampak di hari raya merupakan cerminan kesuksesan menjalankan puasa ramadhan?
Bila kita tengok kebelakang tentang budaya hari raya Rasulullah SAW. Sesungguhnya hampir semua budaya raya di negara kita, sangat sedikit yang dilakukan Nabi SAW. Memang Nabi menganjurkan kita untuk berbahagia di hari raya. Bahkan nilai yang terkandung dalam zakat fitrah supaya semua umat merasakan kebahagiaan bukan?
Untuk kita renungkan kembali. Hari raya masa Nabi Saw itu kental akan spiritualitas. Banyak kesadaran baru setelah berpuasa 30 hari lamanya. Kesadaran itulah yang menjadikan pembeda antara hari raya masa Nabi dengan kebanyakan umat muslim masa kita.
Ketakwaan beliau jelas bertambah ketika hari raya. Namun kita? Mungkin baju di lemari yang bertambah yaa 😁. Semoga bukan itu saja, ketakwaan pun Insya Allah juga ikut bertambah dengan syarat : kita menyadari bahwa kesuksesan puasa kita dinilai dari seberapa zalim kita di hari raya. So, jangan sampai kita menyakiti orang lain ketika hari raya ya, xixi. Cukup ajukan pertanyaan yang membuat orang lain bahagia, bukan pertanyaan yang menyesakkan dada dan menguras tenaga.
Maka dari itu mari jadikan hari raya sebagai ajang perenungan. Seberapa besar peluang kita memperoleh ridha Allah di hari raya ini? Serta, apa yang perlu kita siapkan untuk menyambut ramadhan setahun kedepan? Semoga kita menjadi salah satu umat Rasul yang dapat menempatkan beliau disetiap keadaan kita.
Wallahu alam
