Lisan yang baik merupakan cerminan hati yang baik, begitu pula bila hati buruk maka lisan pun buruk. Sebagaimana halnya dengan isi teko. Hati adalah teko. Bila kita mengisi teko dengan air keruh, maka teko akan mengeluarkan air yang keruh. Ketika kita mengisi hati dengan keburukan, iri, dengki, prasangka, maupun kesombongan maka lisan kita akan menggambarkan hal yang demikian.
Sebaliknya, bayangkan kita mengisi teko dengan air yang jernih. Teko juga akan mengeluarkan air yang jernih. Demikian ketika kita mengisi hati dengan kebaikan-kebaikan, kalimat-kalimat yang baik, dan dzikrullah maka lisan kita juga akan mengatakan hal-hal yang baik.
Sebagai seorang mukmin kita perlu menjaga lisan kita dari kata-kata buruk karena Allah menyerukan kepada manusia untuk berbicara yang baik dan mengindari kata-kata buruk. Dalam Firman Nya :
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba Ku. Hendaklah mereka mengatakan kata-kata yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh nyata bagi manusia.” … (QS 17 : 53)
Sebuah nasehat guru “Menjaga mulut atau lisan sangatlah penting. Terlalu banyak menggunakan mulut untuk menyampaikan hal yang buruk maupun berkeluh kesah dapat menurunkan kualitas kita sebagai manusia. Oleh karena itu berkata-katalah yang baik, seakan-akan yang baik itu akan datang. Apabila tidak mampu mengatakan yang indah-indah sebaiknya diam”.
Dalam hadits disebutkan :
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia berkata yang baik atau (kalau tidak bisa) maka hendaknya dia diam." (HR Muslim).
Lalu, bagaimana seharusnya sikap kita ketika ada seseorang yang mencela, ataupun mengkritik?
Dalam sebuah hadis dikisahkan saat Rosulullah berkumpul dengan para sahabat. Tiba-tiba datang seorang yang mencaci Abu Bakar. Abu bakar diam. Orang tersebut kembali mencaci Abu Bakar. Abu Bakar tetap diam. Ketiga kali orang tersebut mencacu, Abu Bakar merespon. Kemudian Rosulullah beranjak meninggalkan majelis. Abu Bakar mengikuti Rosulullah dan bertanya :
“Apakah kamu marah kepadaku Ya Rosulullah? Rosulullah menjawab : “malaikat telah turun dari langit menyalahkan kata-kata orang yang tadi, namun saat engkau mengomentarinya datanglah setan, dan aku tidak mendatangi tempat jika disana setan hadir.” (HR.Abu Dawud)
Kita harus senantiasa menjaga lisan. Karena lidah lebih tajam dari pedang. Kita tidak pernah tau, kalimat atau candaan mana yang menyakiti saudara kita.
Author : Liya
