Written by : Rasyid_Lebah
Segala puji bagi Allah yang telah menentukan segala sesuatu dengan sebaik-baik ketentuan, menguji manusia – dengan hal yang menyenangkan atau yang menyusahkan – untuk mengetahui kesyukuran dan kesabarannya dalam dua kondisi tersebut, membenci hal-hal yang disukai hamba-Nya, dan meridhai hal-hal yang dibenci hamba-Nya.
Kisah Orang Bijak: "Kadang kita harus rela meninggalkan kenyamanan demi tujuan yang lebih mulia."
Rishi adalah seorang pemuda penuh ambisi. Sejak kuliah, ia bertekad untuk menjadi orang sukses dan tak mau hidup sederhana. Impiannya terbukti—ia berhasil menjadi seorang CEO ternama di luar negeri. Gedung megah, pakaian mahal, dan kekayaan berlimpah kini ada di genggamannya. Namun, di balik semua itu, ada kesepian yang terus menghantui.
Pada suatu hari, Rishi menghadiri reuni kampus. Ia bertemu dengan sahabat lamanya yang hidup sederhana. Meski jauh dari gemerlap dunia, sahabatnya terlihat bahagia. Pertemuan itu menggugah hati Rishi, membuatnya bertanya: “Apakah kesuksesan hanya sebatas harta dan jabatan?”
Dari pertanyaan Rishi tersebut saya teringat ayat yang secara langsung menjelaskan bahwa kesuksesan bukan hanya sebatas harta dan jabatan. Dalam Al-Qur’an memberikan banyak petunjuk mengenai hakikat kesuksesan dunia dan akhirat, yang tidak hanya diukur dari harta dan jabatan tetapi dari keimanan, ketulusan, dan amal saleh juga.
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ.
Dalam potongan ayat QS. Al-Hujurat ayat 13 di terangkan bahwa "Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Dan di dalam Hadis juga menyampaikan bahwa:
"Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada bentuk rupa kalian dan harta benda kalian, akan tetapi Dia memandang kepada hati dan amal kalian." (HR. Muslim no. 2564)
Pada suatu saat dia Pulang ke tanah kelahirannya di India, Rishi menyaksikan kenyataan pahit. Petani di desanya hidup penuh penderitaan, berjuang dengan tanah yang hampir dirampas dan hutang yang menjerat. Air mata anak-anak petani menusuk hatinya. Saat itulah ia menyadari, ada panggilan hidup yang lebih besar daripada sekadar karier pribadi.
Tanpa ragu, Rishi melepas jas mahalnya. Ia turun ke sawah bersama para petani, tangannya kotor oleh lumpur, namun hatinya terasa lebih bersih daripada sebelumnya. Ia menghadapi perlawanan dari para pengusaha tamak yang ingin menguasai tanah rakyat, tetapi ia tidak mundur.
Dengan semangat, ia mengajak seluruh desa untuk bangkit. Bersama-sama mereka menanam kembali tanah yang gersang. Lambat laun, desa itu kembali hidup—padi menguning, senyum petani merekah, dan harapan tumbuh kembali.
Pada akhirnya, Rishi berdiri di tengah ladang hijau, dikelilingi masyarakat yang kini tersenyum lega. Ia tidak lagi hanya seorang CEO, melainkan seorang Maharshi—orang bijak yang menemukan makna sejati dari kesuksesan: bukan ketika dirinya kaya, melainkan ketika ia membuat hidup orang lain lebih baik.