Written by : Hatakee
Apa sebenarnya akar permasalahan manusia dalam menjalani kehidupan? Kenapa mereka seakan akan merasa bahwa masalah yang mereka alami adalah hal yang baru. Sehingga mereka tak segan-segan untuk bersedih, mengeluh, dan merasa berat dalam menjalani hidup. Seakan-akan hal tersebut dianggap wajar dengan berlindung pada dalih, ‘wajar, ini pertama kalinya aku hidup di dunia.’
Apakah manusia justru merasa bebas jika diberikan kebebasan? Kebebasan bertindak, berbuat, berfikir, berkata dan berkeinginan apapun. Mari kita singgung salah satu konsep psikologis bernama paradox of choice. Konsep tersebut menyatakan semakin banyak pilihan yang tersedia, semakin kecil kemungkinan seseorang untuk membuat keputusan memuaskan, bahkan bisa menyebabkan ketidakpuasan, kecemasan dan stress. Artinya, meskipun memiliki banyak pilihan sering dianggap baik, paradoks pilihan menunjukkan bahwa ada titik jenuh di mana terlalu banyak pilihan justru menjadi beban. Kenapa? Mungkin mudah untuk memilih opsi A jika hanya ada opsi B, namun menjadi jauh lebih sulit untuk mengukur nilai dan utilitas A Ketika ada opsi A-Z. Hal tersebut akan terjadi ledakan signifikan. Waktu yang diperlukan untuk mempertimbangkan semua pilihan kita, manusia akan mengalami kelelahan lebih cepat sebelum akhirnya membuat keputusan. Pada titik inilah manusia mengalami kelumpuhan dalam membuat keputusan. Bisa kita simpulkan untuk saat ini bahwa kebebasan adalah belenggu yang bisa menjadi pedang bemata dua.
Tidak berhenti disitu, terkadang Sebagian besar manusia merasa dikekang. Ketika keinginan, kehendak, dan pilihan yang tersedia terbatas. manusia cenderung ingin lebih, dan hal ini wajar karena keinginan tersebut akan terus berkembang seiring waktu. Perkembangan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kebutuhan dasar untuk bertumbuh dan mencapai potensi diri, pengaruh lingkungan dan budaya, serta faktor psikologis seperti rasa ingin dihargai dan diakui (esistensi diri). oleh karena itu pencapaian yang diperoleh oleh manusia, suatu saat akan menjadi titik awal mereka untuk menginginkan capaian baru.
Di sisi lain, pilihan yang terpaksa diambil kerap memunculkan bayangan akan pilihan-pilihan lain yang tidak dapat dipilih. pikiran pun dipenuhi akan angan sendiri. Semakin tinggi angan atau standar hidup yang dicapai, semakin besar pula jarak antara ekspektasi dan realita, yang pada akhirnya memicu kekecewaan. Kehidupan seperti itu cenderung dipenuhi kecemasan akan masa depan dan menunda kebahagiaan karena memiliki standar kebahagiaan yang tinggi. Dalam kasus terburuk, manusia akan menggantungkan identitasnya pada masa depan. Jika angan-angan itu gagal, manusia yang mendewakan angannya sendiri akan merasa kegagalan sebuah impian adalah kegagalan Harga diri dan identitas. Terlalu banyak menginvestasikan pikiran dan emosi pada masa depan yang belum terjadi hanya akan membuat sulit menikmati hidup, hingga terasa hampa.
Sekarang apa titik tengah dari itu semua, jika memang pilihan yang beragam maupun terbatas membuat seseorang merasa sulit Bahagia?
Titik tengah tersebut akan terjawab jika kita dapat meniru sistem cara kerja Al-Quran. Keseimbangan yang terbentuk dari kebebasan dan keterbatasan pilihan. Tuhan memberi anugerah akal terhadap manusia agar mereka mampu berpikir dan memutuskan kehendak pilihan hidup mereka seperti pada QS Al-Kahf [18]:29 “Barang siapa yang ingin beriman, hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin kafir, biarlah ia kafir…”
Lalu dari berbagai pilihan, Tuhan pun memberikan gambaran konsekuensi dari pilihan tersebut seperti pada QS Asy-Syams [91]:9-10 “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
Kesalahan dalam memilih, begitu pula penyesalan karena memilih atau tidak memilih, pada hakikatnya berakar dari kenyataan bahwa manusia itu terbatas pengetahuannya dan lemah kemampuannya. Manusia sering tidak tahu mana pilihan terbaik yang sesuai dengan kemampuan dan keadaan dirinya. Di sinilah Tuhan hadir sebagai Zat Yang Maha Mengetahui, mewahyukan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Di dalamnya, Tuhan menganugerahkan kebebasan memilih, memberikan pengetahuan tentang konsekuensi dari setiap pilihan, serta mengajak manusia berpikir dan mencari makna dari setiap peristiwa. Inilah titik tengah tempat semua pencarian bermuara: menyadari bahwa akar kesengsaraan manusia sering kali bersumber dari aturan-aturan hidup buatan manusia sendiri, sedangkan kebahagiaan sejati hadir ketika kita mengikuti aturan Tuhan.
Jika Al-Qur’an terasa terlalu sulit untuk dipahami, maka mulailah dengan meneladani kehidupan Rasulullah صلى الله عليه وسلم — suri teladan dalam perilaku, ucapan, dan keputusan. Perhatikanlah bagaimana beliau menjalani kehidupan: mengelola keluarga dengan kasih sayang, membangun masyarakat dengan adil, berbisnis dengan jujur, dan berpolitik dengan amanah. Dari sanalah kita akan melihat bahwa ajaran Tuhan bukan sekadar teori, tetapi nyata dan hidup dalam setiap langkah beliau. Wallahualam.
.png)