Kita mungkin sering mendengar pepatah,
“masa depan bisa diciptakan dengan apa yang kita lakukan saat ini”.
Bagaimana masa depan yang kita bayangkan? Apa yang kita bayangkan 10 – 20 tahun kemudian? Seberapa yakin kita bisa mencapai hal itu? Jawaban dari semua pertanyaan itu bisa dengan mudah kita ketahui dengan melihat kebiasaan, cara kita berpikir, bertindak dan apa yang kita lakukan saat ini.
Tulisan ini akan membantu kita untuk menciptakan realitas masa depan, yaitu dengan mengubah kebiasaan kita agar sesuai dengan
“Siapa kita 10 tahun kedepan”.
Pertanyaan sederhana, pernah kah disatu titik Kita
memutuskan untuk merubah kebiasaan atau cara berpikir kita? Jika iya, kondisi
seperti apakah kala itu? Apakah kala itu kita mengalami kesedihan,
keterpurukan, kegagalan, patah hati, ataupun penolakan?
Mengapa harus menunggu sakit/gagal untuk berubah?
Joe Dirza, seorang penulis buku best seller “Breaking the
Habit of being Your Self” atau artinya “Menghentikan kebiasaan menjadi diri
sendiri” mengenalkan sebuah konsep baru dalam membangun habbit. Tentu kebiasaan
menjadi diri sendiri adalah kebiasaan kita yang tidak menghantarkan kita kepada
“Siapa kita 10 tahun mendatang”.
Konsep ini bermula dari cara kita berpikir, paradigma dan
alam bawah sadar. Menurut penelitian pada buku tersebut, seluruh tindakan
seseorang dipengaruhi 95% dari alam bawah sadar mereka. Jadi 5% darinya adalah
pikiran sadar, dimana kondisi tersebut digunakan Ketika kita sedang memutuskan
sesuatu secara sadar.
Mungkin terlihat mustahil melakukan kontrol penuh alam bawah
sadar. Namun dalam ilmu fisika, hal tersebut bukanlah hal yang mustahil. Hukum
fisika mengatakan bahwa kita adalah “Kuantum”, yakni segala sesuatu benda fisik/materi
adalah terdiri dari medan energi. Bisa diartikan bahwa kesadaran (pikiran)
memiliki efek pada energi (materi) karena kesadaran kita adalah “Energi” dan
energi memiliki kesadaran. Kita ternyata cukup kuat untuk mempengaruhi
materi/realitas dengan melakukan tingkat paling dasar. Sederhananya pemikiran
dan perasaan kita mempengaruhi semua aspek kehidupan, bahkan melampui ruang dan
waktu.
Bukan berarti berpikir positif, membuat ekspetasi baik atau
bermimpi itu saja cukup. Eksperimen HearttMath mengatakan bahwa medan kuantum
tidak hanya menanggapi keinginan emosional kita saja. Kuantum hanya akan
merespon Ketika keduanya selaras, yakni menggabungkan emosi dengan hati yang
terbuka dan niat yang sadar. Sederhananya, rutinitas, pikiran dan perasaan kita
yang harus menciptakan perilaku yang sama dan juga rutinitas yang sama. Jadi,
kita perlu mengubah aspek dari realitas kita, kita harus berpikir, merasakan
dan bertindak dengan cara baru, bukan berdasarkan pengalaman atau hal yang
sudah kita alami.
Cerita dari seseorang anak Perempuan akan membuat Kita menjadi
lebih paham konsep yang dibahas diatas. Seorang mahasiswa seni yang memiliki
keinginan untuk berkeliling di negara Italia dengan gratis, bekerja dan belajar
hal baru disana. Keinginan tersebut membuatnya belajar dengan giat untuk
memperoleh beasiswa. Tidak hanya itu, dia selalu melihat beberapa tempat di
Italia seakan-akan dia pernah mengunjunginya, bahkan disela istirahat dia
selalu menuju perpustakaan untuk berbincang dengan salah satu guru Bahasa
Italia, dia berbincang dengan begitu lancar seakan akan dia memang sudah berada
disana. Lalu apa yang terjadi, dia mendapatkan beasiswa untuk belajar di negara
tersebut, dan karena kefasihannya tersebut, guru Bahasa italia menawari dia
untuk memberi pelatihan kepada mahasiswa penerima beasiswa untuk belajar Bahasa
Italia di beberapa kota. Boom, seluruh mimpinya terwujud begitu saja.
Saat dia secara elektromagnetik terhubung ke takdir yang
dimaksudkan yang ada dikuantum, tubuhnya kemudian ditarik ke peristiwa masa
depan. Pengalaman menemukannya. Hasilnya tidak dapat diprediksi, datang dengan
cara yang sama sekali tidak dia harapkan, itu sinkronis, dan tidak diragukan
lagi bahwa itu adaah hasil dari upaya internalnya. Bisakah kita menyebut
peristiwa tersebut dengan sebutan, “Pikiran kita bisa menjadi pengalaman kita”.
Kita harus Bahagia sebelum kelimpahan kita muncul, kita harus bersyukur sebelum itu terjadi.
