Dalam kesendirian,
Kuberpijak ditengah hiruk pikuk pusat kota,
Kota yang menyimpan segudang Sejarah,
Sebagai saksi bisu tumpah darah pahlawan,
Taman kota yang begitu indah,
Kini telah terselimuti kabut asap tebal,
Melapangkan kalbu dalam kemacetan yang entah kapan mereda,
Ketimpangan sosial terlihat jelas dengan mata telanjang,
Tak kunjung usai meski roda waktu terus berputar,
Panasnya surya menusuk disekujur raga,
Serta dinginnya rintik hujan hanya bertamu sesaat,
Meskipun terbentang luas gedung pencakar langit,
Masih tak mampu tuk meneduhkan atap yang hanya berdiri setinggi jengkal,
Lapangan kerja yang berbatas,
Tak mampu memenuhi kebutuhan yang tak kenal batas,
Celaan dan hinaan hanya senda gurau belaka,
Tak memandang tua dan muda,
Mereka saling bersaing untuk saling menjatuhkan,
Demi merebutkan surga yang fana,
Tidak peduli meski akhir hayat tercelup panasnya api neraka
By Writter : Frismat
