Masa modern adalah masa yang secara besar-besaran keadaan fisik dunia menjadi indah dan lebih mudah, dimulai hal kecil seperti sendal hingga teknologi informasi. Dominan anak muda menjadi terkendali oleh situasi dan perubahan fisik dunia sehingga akar kata insecure ini muncul. Satu kata yaitu “merasa” adalah kata yang perlu dihindari terlebih kata itu di sematkan pada hal-hal diluar kendalinya.
Merasa tidak mampu menjadi orang lain, merasa tidak bisa memiliki pakaian indah dan teknologi terbaik seperti orang lain, merasa paling buruk sehingga penalaian buruk orang lain adalah masalah besar, merasa malu karena miskin dari orang kaya. Semuanya tertuju pada kekurangan dan tidak melihat kelebihannya bahkan mampu mengubah masa depannya. Dapat dikatakan pemikiran anak muda yang insecure terkendali oleh lingkungan bukan pribadinya sendiri.
Lalu bagaimana Rasulullah menghadapi insecure di zamannya? Jika kita pandang dari keduniawian, manusia yang paling mulia dan menjabat sebagai kekasih Allah SWT yang Maha Kaya namun termasuk dalam kalangan orang miskin. Kekayaan apa yang Rasulullah tinggalkan di dunia untuk sahabatnya bahkan anaknya Sayyidah Fatimah Azzahra? Rumah Rasulullah pun dijadikan tempat pemakakaman sehingga tidak ada tersisa harta benda berharga dunia yang Rasulullah tinggalkan.
Di masa remaja anak-anak lain bermain layaknya, Rasulullah mengembala kambing namun tidak ada sedikit rasa malu terhadap pekerjaan tersebut, beliau jalankan dengan penuh sabar dan syukur. Orang yang insecure dengan mudah berpikir mengembala kambing adalah pekerjaan yang membuat malu tidak keren dan membanggakan tetapi pekerjaan keren adalah berpakaian indah, duduk di kursi empuk dan mendapat upah yang besar.
Banyak
sahabat termasuk Istri pertama Rasulullah Sayyidah Khodijah ra. Memiliki
kekayaan yang tidak sedikit namun Rasullah tetap kokoh, paling utama dan penting
fokus pada tujuan hidup (BER-IBADAH) bukan keinginan hidup. Doa
Rasulullah SAW dalam hadist diriwayatkan oleh Abd Al-Hamid bahwa:
“Dari Anas sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin”[1]
Siapapun tidak mampu mengucapkan doa seperti Rasulullah, bagi Rasulullah kemiskinan bukan lah suatu kutukan atau penindasan Tuhan terhadap hambaNya, namun merupakan nikmat yang tidak mudah dirasakan kebanyakan orang kaya. Rasulullah melanjutkan dalam hadits tersebut bahwa orang miskin akan masuk surga terlebih dahulu sebelum orang kaya dengan jarak 40 tahun.
Rasulullah telah dijamin surga oleh Allah SWT, namun yang di khawatirkan jangan sampai umatnya menjadi orang miskin tapi tidak bersyukur, coba saja berpikir bagaimana jika Rasulullah adalah orang kaya? Bukankah umatnya akan berbondong-bondong menjadi orang kaya dan orang miskin akan lebih insecure lagi.
Rasulullah
mengajarkan umatnya kemiskinan lebih dekat pada kesabaran, kesyukuran,
meruntuhkan kesombongan dan menjauhkan dari ria. Maka jangan takut dengan
penilaian manusia, terus menumbuhkan kesadaran setiap manusia mempunyai
kekurangan dan kelebihan, cari kelebihanmu dan tingkatkan. Allah mengatakan
dalam hadist qudsi “Aku Tergantung Prasangka Hamba-Ku terhadap-Ku” (HR.
Muslim) bukan Prasangka Manusia Pada Hamba-Ku. Jangan takut dengan
perubahan diri karena Rasulullah tidak insecure dengan sahabat dan istri yang
kaya raya, tidak insecure dengan penilaian orang lain, tetapi fokus pada
perubahan. Pemikiran Rasulullah telah mengubah dunia bukan, hal ini membuat mereka
orang terdekat Rasulullah baik kalangan atas, menengah dan bawah menjadi
pengikut dan mencintai Rasulullah SAW.
[1]
Muhammad Mahfud. “Doa Nabi Ingin Kaya dan Ingin Miskin” Jurnal Agama. Vol.11
No.2 (Juli 2017) 102
