Jika ditarik benang merah, mungkin hal ini yang membedakan antara kedua tim tersebut yaitu perbedaan budaya/kebiasaan suatu organisasi. Keberhasilan seseorang atau sebuah organisasi adalah budaya yang dibangun oleh tim tersebut. Pastinya budaya yang baiklah yang akan mendatangkan kemenangan, hal inilah yang sering dilupakan oleh sebagian besar orang. Menurut Nasihat Guru, “Menggapai kemenangan lebih mudah daripada membangun culture pemenang”, artinya yang lebih penting adalah membangun “budaya pemenang” bukan capaian menang atau kalah yang dijadikan tujuan. Lalu apa itu budaya pemenang? Apa saja sikap yang dilakukan untuk membangun culture pemenang?
Sebelum kita masuk ke pertanyaan tersebut, kita akan mencoba menjawab pertanyaan yang masih ada kaitannya dengan pertanyaan tersebut yaitu “Bagaimana cara kerja yang efisien?” Sebagian dari kita mungkin sudah tahu bagaimana cara kerja yang efisien, yaitu bekerja dengan berpanitia. Belajar berpanitia itu mudah dan sangat cepat, namun hal yang membuatnya terlalu lama adalah bagaimana membentuk tim yang sesuai dengan nilai-nilai. Menurut Nasihat Guru “Jika Atmosfer sudah terbina, belajar berpanitia itu tidak akan lama” artinya untuk membentuk tim yang hebat dan sesuai nilai-nilai, kita harus membangun budaya yang membahagiakan atau budaya yang sudah terbina. Jika atmosfer masih belum terbina maka belajar berpanitia membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga program-program yang sudah direncanakan pun tidak berjalan secara optimal.
Lalu atmosfer yang buruk itu atmosfer yang seperti apa? Menurut Nasihat Guru ”Jika ada mentalitas yang buruk, itu tidak mau belajar orang disitu, contoh ada orang yang suka mengkritik, tidak boleh salah kita. Misalnya, jika ada seseorang yang berinisiatif untuk melakukan sesuatu, semangat orang tersebut akan mudah padam karena ada budaya kritik dan tidak boleh salah. Kemudian apabila ada orang yang tidak tepat waktu pada sebuah kegiatan, hal itu bisa merusak suasana. Makanya hal yang terpenting untuk dijaga adalah atmosfer.”
Dalam proses membangun atmosfer yang baik, beliau menuturkan terkait pentingnya COC (Code Of Conduct) sebagai berikut, “Itulah perlunya COC yang gunanya untuk menghempang atau yang mengganggu atmosfer seperti kritikan, keluhan, tidak sholat fardhu/sholat tawajuh berjamaah, tidak tepat waktu dll. COC yang kita sepakati ialah, mari kita sholat berjamaah, tidak mengeluh, tidak mengkritik, dan tepat waktu.” Sudah sangat jelas sekali ya teman-taman, Guru-guru kita sudah mengajarkan pada kita bagaimana cara membangun atmosfer atau budaya yang membahagiakan. Atmosfer yang membahagiakan mampu secara otomatis akan mempermudah dalam membangun tim atau panitia yang sesuai nilai-nilai, sehingga dampak yang dihasilkan ialah orang – orang akan dengan sendirinya memiliki niat tulus dalam berbuat kebaikan. Niat tulus tersebut nantinya akan memunculkan perbaikan-perbaikan baru yang lebih baik. Namun terkadang sebagian besar dari kita masih merasakan rasa takut untuk memulai langkah tersebut. Baik, bagaimana caranya? Bersambung…
Selanjutnya kita akan membahas bagaimana menangani rasa takut untuk memulai sesuatu. Stay tune.
