Lanjutan dari tulisan yang berjudul bersama kesulitan ada kemudahan...
Kita yakin bahwa Allah senantiasa memberikan kemudahan dalam kesulitan sebagaimana janji Allah dalam surat Al-Insyirah ayat 5-6 pada tulisan sebelumnya. Allah juga bersumpah pada surat Ad-Dhuha, khususnya pada ayat 3 - 5.
Adapun asbabun nuzul dari ayat ini adalah kegundahan Rosulullah SAW saat tidak memperoleh wahyu dalam waktu yang lama. Sehingga orang kafir Mekah mengejek-ngejek nabi dengan kata-kata “Tuhanmu sudah marah padanya dan meninggal kan kamu”. Lalu turunlah surat Ad-Duha ini sebagai penenang hati nabi. Perlu kita garis bawahi, turunnya ayat ini saja sebagai penenang hati nabi.
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰىۗ
Mā wadda'aka rabbuka wa mā qalā.
Tuhanmu (Nabi Muhammad) tidak meninggalkan dan tidak (pula) membencimu.
Engkau pada ayat ini tidak hanya ditujukan kepada "Rasulullah SAW" tetapi ditunjukan kepada siapun yang masih memiliki keimanan dan harapan kepada Allah SWT. Sebagai mana Al-Qur'an pada hakikatnya bicara kepada semua orang. Kita harus yakinlah inilah kata-kata Tuhan kepada kita. Lantas ketika kita masih ragu, pantaskah kita menerima Rahmat Tuhan?
وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰىۗ
Wa lal-ākhiratu khairul laka minal-ūlā.
Sungguh, akhirat itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan (dunia).
Ayat ini dapat kita pahami bahwa ending (akhir) itu lebih baik dari awal. Orang tua lebih bernilai daripada saat mereka berusia muda, baik dari segi keilmuan, pengalaman, bahkan cara mereka melayani/berbuat baik. Semuanya menjadi lebih baik. Dengan demikian "Hukum alam ini hanya menumbuhkan yg terbaik".
Jika kita mengingat perjalanan yang telah dilalui, kita pasti pernah berada pada posisi kesulitan. Misal dalam ekonomi, pertemanan, pekerjaan bahkan kita pasti pernah mengalami posisi dimana kita tidak tau tujuan hidup kita ini untuk apa. kemudian tuhan memberikan pada kita rezeki yang cukup, teman-teman yang baik, pemahaman-pemahaman yang semakin hari membuat pengetahuan kita semakin bertambah dalam menghadapi permasalahan - permasalahan hidup. Makanya dalam Injil pun disebutkan "sesungguhnya Tuhan menjadikan indah pada waktunya". Demikian hal itu dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk terus berusaha menjalani apa yang kita lalui saat ini.
وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰىۗ
Wa lasaufa yu'ṭīka rabbuka fa tarḍā.
Sungguh, kelak (di akhirat nanti) Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau rida.
Ayat tersebut memberikan kepastian bahwa kehidupan ini akan selalu membaik. Kita perlu optimis dalam menjalani kehidupan ini terutama dalam mengejar Rahmat tuhan dalam mencari ampunannya. Pendek kata Tuhan yang maha baik tidak akan memberikan keburukan sedikitpun pada hambanya.
Sebuah nasehat guru :
“Itu sebabnya masalah itu jangan dihindari, tapi ditemani, dicintai. Kembangkanlah sebuah rasa bangga (rasa bangga) dan rasa syukur (rasa syukur) dengan masalah yang menghampiri kita. Bila kita sakit, atau bahkan miskin, atau bahkan pasangan kita kurang sesuai dengan harapan kita, belajarlah untuk bangga dan bersyukur. Carilah sebuah mindset, sebuah pemikiran yang mampu menghadirkan rasa bangga dan syukur itu; misalnya dengan memandang masalah sebagai ladang pahala dan sebagai pembakar dosa-dosa kita.
Itu sebabnya para ulama saleh di zaman dulu gelisah ketika tidak memiliki masalah! Bahkan mereka bersedih menangis kepada Tuhan meminta masalah dalam hidup mereka! Dalam doanya mereka berkata lebih-kurang: Ya Tuhan, kenapa Kau membiarkan aku bergelimang dosa? Ampunilah dosaku dengan kiriman-kiriman masalah darimu! Itu juga mengingatkan kita pada seorang sahabat Nabi yang melihat demam karena mendengar Nabi merindukan suhu yang membakar dosa. Di sini kita mengemas Naruto ketika dia berkata, Shinobi (Ninja) adalah orang yang bertahan. Shinobi (Ninja) adalah mereka yang mampu menahan, apapun yang datang pada mereka. Nampaknya, kita perlu memiliki mindset ke-Ninja-an Naruto dalam menjalani kehidupan bertuhan”.
Written by : D Rawr
