written by : Randi
Beberapa hari lalu, saya membaca sebuah buku yang ditulis oleh Viktor E. Frankl berjudul Man's Search for Meaning (Laki-Laki yang Mencari Makna). Dalam buku itu, ada sebuah kalimat yang membuat saya kembali merenung: tentang menemukan tujuan dan makna hidup. Kalimat tersebut telah menjadi pertanyaan yang membelenggu diri saya selama beberapa tahun terakhir. Ya, sebagai manusia, saya merasa wajib menemukan tujuan dan makna kehidupan. Tanpa itu, hidup terasa sangat hampa. Di sisi lain, kehidupan ini menawarkan berbagai rasa—mulai dari asam, manis, pahit, kekecewaan, penderitaan, hingga kebahagiaan. Sebagaimana penderitaan yang dialami Viktor Frankl dalam kamp konsentrasi, ia berhasil menemukan makna di balik penderitaan itu. Justru karena itulah ia mampu bertahan hidup hingga akhirnya bebas. Begitulah kehidupan. Saya pun harus terus mencari makna dan tujuan di balik setiap peristiwa yang saya alami.
Mengutip kalimat bijak Viktor E. Frankl:
"Jika hidup benar-benar memiliki makna, maka harus ada makna di dalam penderitaan. Karena penderitaan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Meskipun penderitaan itu merupakan nasib dalam bentuk kematian, tanpa penderitaan dan kematian, hidup manusia tidak sempurna."
Sangat menarik! Kalau kita lihat firman-firman Tuhan dalam Al-Qur’an, ternyata banyak juga yang menganjurkan kita untuk mencari makna kehidupan, salah satunya dalam QS. Ali Imran: 190: Surah Ali Imran ayat 190 adalah:
اِنَّ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَاخۡتِلَافِ الَّيۡلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الۡاَلۡبَابِ ۚۖ ١٩٠
Artinya: "Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal."
Mencari makna kehidupan adalah salah satu tugas terbesar manusia. Saya pun sering bertanya dalam hati: Apa sebenarnya tujuan hidup saya? Apa cita-cita saya? Pertanyaan itu selalu berputar dalam pikiran saya. Kadang saya ingin menjadi orang sukses, menjadi kaya, menjadi kepala desa, pengusaha, atau dosen. Tapi saya kemudian merenung dan bertanya dalam hati, "Benarkah itu tujuan hidupku yang sejati?"
Hingga pada suatu waktu, saya mengikuti sebuah majelis zikir. Seperti biasa, setelah salat Subuh, ada sesi diskusi. Singkat cerita, salah satu kisah yang diangkat adalah tentang seorang anak TK (Taman Kanak-Kanak) yang ditanya oleh gurunya: "Si Fulan, apa cita-citamu? Lalu si anak menjawab, "Saya ingin jadi orang baik saja, Bu!" Anak itu kini telah menjadi seorang guru di salah satu majelis zikir, dan ia sangat dicintai oleh murid-muridnya.
Dari kisah itu, saya berdialog dengan diri saya sendiri: "Jadi orang baik?" Ya, jadi orang baik, itulah jawaban yang selama ini saya cari dari pertanyaan yang terus berputar dalam pikiran saya. Saya ingin menjadi orang baik. Saya ini manusia. Saya adalah ciptaan. Dan jika saya diciptakan, tentu ada Sang Pencipta. Maka logis jika saya bertanya pada Tuhan: "Apa tujuan Engkau menciptakanku?" Untuk menjawab itu, dan sekaligus menutup tulisan ini, saya ingin mengutip firman Allah dalam QS. Az-Zariyat:
وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡاِنۡسَ اِلَّا لِيَعۡبُدُوۡنِ
Artinya: "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku."
Ya, itulah tujuan hidup: untuk beribadah kepada Tuhan. Dan secara sederhana, beribadah kepada Tuhan bisa dimaknai sebagai menjadi orang baik. Maka saya memilih menjadikan tujuan Tuhan sebagai tujuan hidup saya. Karena saya yakin, pilihan Tuhan pasti selalu yang terbaik. Tinggal saya yang harus terus mencari makna di balik setiap kejadian dalam hidup ini