written by : Memuat Lambat
“Manusia adalah makhluk yang terbatas, terjebak dalam waktu yang singkat, dan waktunya habis begitu cepat; kita hidup dalam penantian yang tidak pernah bisa dipenuhi.”
Bagian 1: Ilusi Waktu Terbaik
Manusia cenderung berharap akan momen ideal untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Baik dalam karir, hubungan, maupun pencapaian pribadi. Namun sering kali, penantian panjang yang mereka tunggu tak juga membuahkan hasil.
Pertanyaannya, mengapa waktu terbaik itu tidak kunjung datang?
Secara umum, waktu terbaik barangkali adalah momen ideal untuk melakukan sesuatu. Sementara, paham ideal manusia kembali kepada persepsi tiap-tiap pribadi itu sendiri. Inilah mengapa kita sering kali menunggu saat yang sempurna untuk berbuat, atau tak jarang kita baru tersadar bahwa sesuatu adalah "waktu terbaik" setelah kita melewatkannya—semua terjadi karena seiring pemahaman kita berkembang, persepsi kita (terhadap sesuatu, termasuk waktu terbaik) pun berubah.
Mungkin pernah terlintas di benak kita, "seandainya aku melakukan ini...", "kalau saja dulu aku melakukan itu...", "andai aku berbuat lebih awal..." atau semacamnya. Kalimat-kalimat itu terbesit ketika kita sadari bahwa kita telah melewati suatu kesempatan, yang kita pikir akan sulit untuk mendapatkan kesempatan serupa di waktu mendatang. Kemudian kita tahu bahwa peluang ada di hadapan kita, seharusnya kita dapat memanfaatkan momen tersebut. Tapi acapkali, masa berlalu begitu saja. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Tidak ada waktu yang sempurna untuk memulai sesuatu—mulailah dari saat ini.”
Bagian 2: Melewatkan Waktu Terbaik
Anak kecil tidak terbelenggu oleh kecemasan akan keputusan yang salah, mereka hanya bertindak berdasarkan insting dan peluang yang ada. Dengan berlalunya waktu, pengaruh sosial dan ekspektasi eksternal mulai membentuk mereka. Berikutnya, sebagian dari mereka menunjukkan ketergantungan—merasa harus menunggu persetujuan dari individu lain, tentang kapan seharusnya sesuatu terjadi.
Padahal kalau kita ingat kembali, keberadaan manusia itu tidak luput dari kesalahan yang justru menjadi keindahannya. Ekspektasi dan angan yang kita miliki pun, sebagian besar tidak akan pernah terwujud—manusia membuat rencana, tapi Tuhan yang berkuasa. Renungkanlah bahwa pengaturan apapun yang Tuhan berikan adalah yang terbaik bagi kita, cukuplah seorang pribadi menyikapinya dengan optimis sebagai karunia yang besar, bahkan meski itu tampak berat pada mulanya.
"Akhirnya manusia-manusia itu hanya peduli akan hidupnya sendiri. Mengapa tidak kau kembali saja kepada yang segala kesempurnaan adalah milik-Nya?"
Bagian 3: Waktu Terbaik Kedua
Walaupun sekarang kita tahu bahwa setiap saat adalah waktu terbaik, alam bawah sadar kita mungkin masih sulit menerima kenyataan tersebut. Maka biarlah kita beranggapan bahwa hari ini adalah waktu terbaik kedua.
Apa yang kita miliki (dalam kendali kita untuk bersikap) adalah saat ini. Seandainya kita melewatkan waktu terbaik, barangkali saat ini adalah waktu terbaik kedua yang dapat kita manfaatkan.
Terima kasih sudah membaca.
Kendalikan pikiranmu, kendalikan hidupmu.
Wallahu a'lam.
