written by : memuatlambat
Saya ingin mengawali tulisan ini dengan sebuah cerita. Suatu ketika saya mengisi ulang bahan bakar minyak untuk motor yang saya gunakan di sebuah stasiun pengisian bahan bakar. Sekalian, saya juga singgah di toilet yang disediakan di sana. Namun setelah menggunakan fasilitas tersebut, saya dimintai bayaran oleh seorang yang sedari tadi duduk di depan toilet, sembari menikmati hidangannya.
Ada dua hal yang ingin saya soroti di sini:
Pertama, terhadap sesuatu kita harus melakukannya dengan ilmu.
Melihat ayat ke-170 dari surah Al-Baqarah dalam Al-Quran, nampaknya Tuhan mengisyaratkan kepada kita agar kita tidak taklid buta. Taklid buta bisa kita katakan sebagai kepatuhan atau perilaku "ikut-ikutan" tanpa berpikir atau mencari tahu lebih dalam. Di sini saya tidak begitu saja mengikuti permintaan untuk membayar, mengingat orang yang hendak memungut bayaran itu tidak profesional, saya mengira bahwa ini adalah praktik ilegal.
Kedua, atas pengetahuan yang kita miliki hendaknya diamalkan.
Saya kembali berpikir. Apakah orang ini tidak menyadari bahwa ini adalah fasilitas yang disediakan untuk umum, khususnya pelanggan? Mengapa dia melakukan pekerjaan seperti ini? Mengingkari kebenaran dapat menyebabkan kebingungan dan ketidakpastian, terjebak di antara apa yang diketahui dan apa yang dipilih untuk dipercayai. Lambat laun, mungkin kita tidak akan mampu lagi untuk membedakan antara mana yang benar dengan mana yang salah.
Pikiran yang dikaruniakan Tuhan kepada kita, meningkatkan peluang bagi kita untuk memperoleh kebaikan maupun keburukan. Ada baiknya bagi kita melakukan penelitian atau analisis secara mendalam terhadap suatu masalah sebelum kita bertindak. Merupakan tanggung jawab bagi seorang manusia atas peluang yang dimilikinya.
Namun pada akhirnya, hidup ini adalah tentang ketepatan pengambilan keputusan, bukan kemampuan menganalisis. Seorang guru mengatakan, untuk jangan bangga bila analisa kita tepat, dan jangan kecewa bila analisa kita keliru. Setelah saya renungkan kembali, bukannya tidak mungkin bahwa tiap daerah memiliki kebijakannya sendiri terkait pemungutan biaya kebersihan. Kalaupun tidak, biaya yang perlu dikeluarkan pun barangkali kecil saja.
Guru itu juga menambahkan, maka terimalah peringatan walau datangnya dari seekor katak sekalipun. Bila katak berkata benar kemudian kita ikuti nasehatnya hingga kita selamat, sejatinya itu karunia Tuhan, bukan berarti kita bodoh dan katak pintar. Lagi pula, kalau kita lebih bodoh dari katak, memangnya kenapa? Bukankah hanya Tuhan yang Maha Mengetahui?
Semoga tulisan ini dapat memantik pencerahan dan mengajak kita untuk selalu menggunakan ilmu dan pengetahuan dengan bijak dalam setiap tindakan kita.
Wallahu a'lam.
