Menurut ilmu manajemen, dalam menciptakan organisasi yang efektif, terdapat dua jenis pendekatan komunikasi organisasi yaitu top-down dan bottom-up. Pendekatan yang umum diterapkan mayoritas organisasi adalah top-down yang mana komunikasi dan arahan ditetapkan langsung oleh pemimpin dan disampaikan kepada anggota. Sedangkan pendekatan bottom-up adalah sebaliknya, yakni pendekatan yang komunikasi disuarakan oleh anggota organisasi dan disampaikan oleh pemimpin.
Bagaimana dengan
proses diturunkan Al-Quran? Bukankah Al-Quran diturunkan secara bertahap jika
dibandingkan dengan kitab-kitab sebelumnya yang diturunkan sekaligus. Bisa kita
lihat pola komunikasi dari dua fenomena tersebut, apa dampak jika penurutan
kitab-kitab sebelum Al Quran secara top-down? Ia akan terasa bagaikan kitab
aturan. Berkebalikan dengan Al Quran, walaupun ada kalanya Al-Quran turun
secara top-down, tapi selalu bersifat kontekstual karena turun secara bertahap.
Kontekstual di sini maksudnya adalah bahwa Al-Quran sering kali turun menanggapi kasus yang sedang terjadi. Ini adalah jenis komunikasi bottom-up. Misalnya, ketika Rasulullah berada
dikondisi terdesak atau kebingungan di Mekkah lantaran banyak fitnah, turun QS
Al-Ankabut ayat 56 sebagai isyarat hijrah. Atau ketika fitnah menimpa Aisyah
istri Rasulullah saw, turun rangkaian QS An-Nur ayat 11 sampai 20 sebagai
respon atas tuduhan tersebut.
Apa dampaknya
penurunan Al-Quran yang kontekstual ini? Al-Quran terasa hadir dalam kehidupan
umat. Al-Quran terasa Bagai sehabat yang hadir ditengah umat-umatnya mengalami
persoalan hidup. Bukankah Tuhan terasa begitu dekat dan disekitar kita, Tuhan
yang hadir, Tuhan yang memperhatikan, Tuhan yang memberi petunjuk dan
berinteraksi dengan umat. Oleh karena itu, jika kita ingin memperoleh manfaat
Al-Quran secara penuh setara dengan kemanfaatan yang diterima oleh sahabat di
zaman Rasulullah saw, kita harus menjadikan Al-Quran itu sebagai sahabat.
Lantas bagaimana
teknisnya? Ketika kita bingung menghadapi sesuatu, kita perlu selalu bertanya
kepada diri kita sendiri. “Kira-kira apa komentar Al-Quran menanggapi situasi
saya?” atau “Jika Rasulullah saw diposisi saya, apa yang akan beliau lakukan?”
Dengan begitu, Al-Quran akan terasa hadir dalam kehidupan kita, dalam cara
berpikir kita, dalam keputusan yang kita ambil dan agar kita mampu mengubah
hidup kita menjadi lebih baik. Seperti kata Ustaz Nouman Ali Khan, “Al-Quran
itu kitab transformasi”, namun sayangnya betapa sedikit yang memanjadikan
Al-Quran seperti itu.
Fenomena yang
sering terjadi, Al-Quran hanya menjadi kitab aturan, kitab Sejarah, kitab hukum
halal-haram sehingga rasanya nama Rasulullah saw hanya sebagai nama yang asing,
nama yang hanya kita agungkan hingga terasa segan untuk meniru sifat beliau
karna keagungannya. Akhirnya agama dan Al-Quran terasa terpisahkan dari ruang
kehidupan kita. Pada saat shalat, puasa Ramadhan, membayar zakat atau aktifitas
peribadatan lain kita hadirkan Al-Quran. Namun saat berumah tangga, mendidik
anak, melakukan transaksi bisnis, bekerja, bersosialisasi dengan Masyarakat,
rekan, saudara maupun tetangga, justru Al-Quran tidak kita hadirkan.
Tak jarang,
sering dalam meniru Rasulullah kita hanya meniru lapisan kulit luarnya.
Misalnya pakaian, panjang janggut, jenis pakaian, atau aktivitas lainnya.
Padahal jika kita perhatikan, hal-hal tersebut secara geografis, jaman, sosial,
ekonomi dan politik sudah amat berbeda dengan beliau. Betapa meruginya kita dan
betapa asingnya beliau dari hidup kita. Kita harus mampu meniru secara berpikir
dan berbuat, kita harus mampu menghadirkan beliau dalam kehidupan kita, dalam
pengambilan keputusan kita sehingga seaakan-akan Rasulullah saw hadir
memberikan nasihat bahkan memilihkan kepada kita keputusan hidup yang ideal.
Wallahualam.
Dan ketahuilah olehmu bahwa di
kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan
benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu
"cinta" kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu
serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.
Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,