Sebuah nasihat yang dipenggal dari salah satu anekdot sufi karya Rusdi Mathari. Mungkin beberapa masih asing dengan istilah "Anekdot Sufi", yaitu kisah yang menceritakan pengalaman sehari hari seorang sufi yang bersifat fiksi maupun non fiksi.
Kisah ini berlatar di sebuah desa di Madura, seorang bernama Cak Dlahom yang merupakan seorang duda tua bertempat tinggal di gubuk dekat kandang kambing milik pak Lurah. Cak Dlahom kerap menjadi komentator atau penyulut perbincangan mengenai substansi ibadah yang membuat para tetangganya merenungkan ulang pemahaman mereka tentang agama Islam. Terkadang perilaku dan sikap Cak Dlahom yang kerap sulit dimengerti oleh sebagian besar orang membuat Cak Dlahom dianggap orang gila. Namun, tidak sedikit nasihat Cak Dlahom menjadi refleksi bagi kita semua.
Di suatu malam, Cak Dlahom duduk bersila sambil mengucap taubat dengan serius sembari menutup mata. Tidak lama setelah itu Gus Mut yang selesai tadarus menghampiri Cak Dlahom dan duduk disebelah. Cak Dlahom yang merasakan kehadiran Gus Mut langsung bertanya, "Mau apa kamu ke sini gus?". Gus Mut nampak bingung menyampaikan maksud bahwa hendak berguru kepada Cak Dlahom, lelaki yang dianggap kurang waras oleh orang-orang kampung, menjawab "Cak saya mau berguru pada samean, sudah lama saya mencari guru".
"Kamu mencari guru sudah betul, tapi aku bukan gurumu"
"Kenapa, Cak?"
"Mestinya aku yang bertanya 'kenapa', bukan kamu"
Gus Mut terdiam, dia merasa serbasalah. Orang yang dihadapinya adalah orang yang kenyang asam garam kehidupan. Orang yang tidak silau pada dunia dan malah menghinakan dirinya sedemikian rupa. Membiarkan siapa saja meremehkannya. Gus Mut kemudian berkata "Saya tetap berguru, Cak, Walaupun samean tolak".
Cak Dlahom tak menjawab, pandangannya justru tertuju pada bulan yang mengapung di telaga dekat mereka duduk.
"Kamu lihat bulan di air itu, Gus?"
"Saya lihat, Cak"
"Lihat, air tidak pernah menolak yang datang padanya. Bulan dan bangkai sama-sama diapungkannya."
"Iya, Cak. Akan saya ingat pesan dan nasihat samean."
"Nasihat yang mana, Gus?"
"Tentang air yang tidak pernah menolak apapun."
"Aku tidak pernah memberi nasihat. Itu bukan nasihat, apalagi nasihat untukmu."
"Lalu beri aku nasihat Cak kalau begitu."
"Aku bukan gurumu, Gus. Dan andai benar kamu butuh nasihat, kamu tak akan sanggup menurutinya."
"Saya berjanji, Gus, akan menurutinya."
Cak Dlahom tampak terkikih kecil sembari berkata
"Gus, Gus, Musa dulu berjanji kepada Khaidir, tetapi selalu melanggarnya."
"Jadi samean Khaidir, Gus?"
"Dan apa kamu Musa yang banyak tanya, Gus?"
"Ya ndaklah, Cak. Saya cuma tanya aja, Cak. Masak ndak boleh tanya?"
Lalu keduanya bertatapan cukup lama, keheningan tersebut kemudian dipecah oleh pertanyaan serius yang dilontarkan Cak Dlahom.
"Serius kamu mau nasihat, Gus?"
"Serius, Cak"
"Untuk apa? akan kau gunakan sebagai apa, Gus?"
"Sebagai pegangan saya, Cak."
Cak Dlahom menyerah atas keteguhan Gus Mut yang tidak menyerah untuk meminta nasihat darinya.
"Apa kamu ridha dengan keberuntungan orang lain? Apa kamu ikhlas dan bersabar dengan segala kemalangan yang terjadi pada dirimu?"
Gus Mut lalu terdiam dengan mulut yang menganga. Sedangkan Cak Dlahom kembali memandang bulan di telaga. Dia mulai menembang.
"Duh, Allah... Engkaulah lam yaalid wa lam yuulad itu. Ampunilah kami. Betapa hina diri ini ..."
Jadi begitulah secuil kisah Cak Dlahom, nasihat yang diberikan kepada Gus Mut dapat menjadi pembelajaran kita semua.
Bagaimana kita bisa seikhlas air yang menerima apapun yang datang, entah bulan dan bangkai sama-sama diapungkannya. Apakah kita bisa tetap sabar dan ikhlas terhadap hal baik dan hal yang kurang menyenangkan bagi kita?
Masih adakah rasa syukur dibalik kesulitan dan kesempitan selama ini? Masih adakah secuil rasa iri terhadap kenikmatan orang lain yang selalu kita dambakan? Pertanyaan tersebut layak kita renungkan setiap hari, menjadi pengingat tentang bagaimana kita bersikap dan melihat kehidupan ini. Janganlah jadi air yang keruh, tidak dapat memantulkan apapun, semoga Allah selalu melunakkan hati kita untuk senantiasa bertaubat kepadaNya.
written by : Fira
.jpeg)