Bismillahi wa bihamdih.
Tuhan membenci orang yang tidak mau berpikir. Meskipun tidak diterangkan secara eksplisit dalam Al-Quran, banyak ayat yang menekankan pentingnya akal dan berpikir—“Apakah mereka tidak merenung?”, “Apakah kamu tidak berpikir?”, “Apakah kamu tidak berakal?”.
Kita sebagai manusia dikaruniai akal, dan hingga saat ini peradaban manusia maju karena pemikiran yang dimilikinya. Teknologi seperti gadget dan internet tidak akan pernah bisa kita gunakan jika tidak ada pemikir dengan perasaan penuh yang mewujudkan idenya. Betapa dahsyatnya kekuatan pikiran dalam membentuk dunia ini, Anda memiliki kemampuan untuk "mencipta".
Mungkin sudah lama kita berpikir untuk memiliki lingkungan yang positif, kehidupan yang produktif, tapi tidak kunjung menjadi kenyataan. Apakah pikiran saja sudah cukup? Pikirkan itu harus selaras dengan perasaan dalam diri untuk mewujudkannya. Barangkali masih tertinggal perasaan bahwa diri tidak pantas untuk berada dalam kondisi itu, merasa bahwa itu sama sekali tidak mungkin terjadi dan Anda mendapatkan apa yang Anda rasakan. Cobalah untuk mengondisikan diri dengan situasi yang dipikirkan, bayangkan bahwa saat ini Anda dikelilingi kawan-kawan baik yang senantiasa membantu Anda menjadi lebih baik, resapi perasaan itu—ingat bagaimana Anda merasa menjadi tokoh dalam drama kesukaan Anda hanya dengan menontonnya—dan amati perubahan yang terjadi.
“Dengan kekuatan yang besar pasti ada tanggung jawab yang besar.” - Stan Lee
Sekarang kalau kita tidak berusaha menggunakan pikiran kita, bagaimana kita mengambil keputusan? Apa yang akan terjadi setelah kita mengambil keputusan tersebut? Keputusan yang kita ambil mengarah pada tindakan yang tidak bertanggung jawab dan cenderung membawa konsekuensi negatif. Saya pikir menyedihkan apabila kita (manusia) bernasib buruk, padahal kita hadir di dunia ini sebagai "Khalifah" yang dibekali hati dan pikiran.
Bagaimana jika sudah terlanjur berada dalam nasib yang buruk? Ini harus didobrak! Adalah pilihan bagi Anda untuk mengubah hidup Anda dan memang perubahan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan secara berangsur. Saat kita hendak tidur di malam hari, seringkali kita (seakan) berpura-pura tidur. Memang begitu prosesnya, kita ingin menjadi baik maka mencobalah kita untuk berbuat baik, kita ingin menjadi penghuni surga maka berusahalah kita meniru ciri penghuni surga, dan tentu pikiran kita harus selaras dengan perasaan (syukur) dalam diri kita.
“Kebaikan satu-satunya adalah pengetahuan dan kejahatan satu-satunya adalah kebodohan.” - Socrates
Tapi sebagai manusia—yang tidak sempurna—ada kontradiksi dalam diri. Bahkan saat memutuskan untuk menentukan yang terbaik kita tidak tahu apakah itu yang terbaik. Mengenai ini, coba ingat sebuah hadits riwayat Muslim, yang meredaksikan jika seorang berijtihad dan ijtihadnya benar maka 2 pahala mengiringi, dan jika ijtihadnya salah maka 1 pahala mengiringi. Bedanya tidak jauh! Kendatipun demikian, saya pikir justru orang yang tidak berusaha yang tidak akan mendapat kebaikan sama sekali. Rasulullah saw. adalah suri tauladan, dan temukalah sifat-sifat Rasulullah saw. itu pada orang-orang di sekitar kita, dan jadilah Rasulullah saw. versi kita sendiri.
“Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!” [QS. 2:197]
Idealnya manusia memiliki potensi yang luar biasa (tidak terbatas), bisa mewujudkan realita yang diinginkannya. Hanya saja kebanyakan orang tidak mengerti, dan kita ini sejak lahir sudah dibatasi (terkondisikan) terhadap hal yang fisik. Malas berpikir sama dengan tidak bertanggung jawab yang pada akhirnya adalah suatu kejahatan.
Kendalikan pikiranmu, kendalikan hidupmu.
Wallahu a'lam.
Writter by: Memuat